Ngopi Santai
'Teori' Pencet Balon
Kalau kita mengakses sumber yang tak terbatas, maka yang mengalir dari sumber itu juga tak terbatas.
Penulis: Sunarko | Editor: Ady Sucipto
Kalau hanya dilihat dari ukuran fisik(al) dan material, jelas perjuangan mbah-mbah kita dulu akan ditekuk dan kalah selamanya dari penjajah.
Menurut David R. Hawkins dalam bukunya Power vs Force: The Hidden Determinants of Human Behaviour, dasar evolusi yang sejati adalah bahwa siapa yang paling dicintailah yang akan paling bertumbuh adaptif-positif, dan "menang". Yakni, mereka yang hidupnya diabdikan secara sungguh-sungguh tulus-ikhlas bagi pelayanan dan promosi sosial-kemanusiaan.
Tetapi, menjadikan cinta ikhlas sebagai energi atau bahan bakar evolusi memang tidaklah mudah, sampai kemudian Hawkins membeberkan semacam panduan lewat map of consciousness atau peta kesadaran sebagaimana yang tertuang dalam bukunya Power vs Force itu.
Dalam dunia (ilmu) manajemen-bisnis, pada pertengahan 2000-an muncul paradigma baru yang dipelopori oleh W. Can Kim dan Renée Mauborgne, duo profesor dari INSEAD –salah-satu sekolah bisnis papan atas dunia yang berada di Prancis.
[sekadar info, pak JK termasuk salah-satu alumnus INSEAD untuk program/kursus pengembangan eksekutif]
Pemikiran Kim dan Renee itu mendobrak paradigma lama dalam ilmu manajemen dan bisnis, yang diantaranya banyak dipengaruhi oleh pemikiran Michael Porter, profesor dari Harvard Bussiness School.
Paradigma baru yang ditawarkan Kim & Renee itu dituangkan dalam buku mereka yang fenomenal, yakni Blue Ocean Strategy (ada yang mengindonesiakan-nya menjadi Strategi Samudera Biru).
Menurut Kim-Renee, paradigma lama manajemen-bisnis berangkat dari asumsi dasar bahwa sumber daya di dunia ini terbatas (scarcity), sehingga manusia harus bersaing, berebut bahkan berantem untuk memperoleh bagian dari sumber daya itu.
Seperti “teori pencet balon”. Satu bagian balon dipencet (dan kempes), bagian lainnya menggelembung. Begitu sebaliknya.
Intinya, jika yang satu mendapatkan, yang lain jadi korban. Ini karena adanya persepsi bahwa sumbernya tersedia terbatas, bahkan langka.
Asumsi dasar tentang kelangkaan atau scarcity sumber daya ini jugalah yang melandasi Ilmu Ekonomi hingga kini, yang masih diajarkan di sekolah dan kampus.
Kerangka konseptual Michael Porter yang puluhan tahun jadi acuan bisnis, yakni Porter Five Forces Analysis, merupakan salah-satu “puncak karya” dari paradigma scarcity atau kelangkaan itu.
Menurut Porter, ada lima kekuatan (force) yang sangat mempengaruhi bisnis & industri, yaitu (1) ancaman dari produk pengganti/substitusi, (2) ancaman pesaing, (3) ancaman new entry atau pesaing baru, (4) kekuatan/daya tawar pemasok, dan (5) daya tawar konsumen.
Coba amati, semua elemen “five forces” itu memandang bahwa dunia luar sebagai ancaman, dan subyek (bisnis/industri) merasa berada dalam tekanan.
Elemen-elemen itu masuk dalam kategori atau zona energi negatif di ”Peta Kesadaran” (Map of Consciousness) yang dibeberkan David R. Hawkins dalam bukunya Power vs Force tersebut di atas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/teori-samudra_20180917_101900.jpg)