Breaking News:

Dosen Unud Ungkap Kesalahan Aksara Bali di Bandara Ngurah Rai, Koster Segera Lakukan Perbaikan

Salah satu gebrakan Gubernur Bali, Wayan Koster, adalah Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 80 Tahun 2018

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Ady Sucipto
Istimewa
Penulisan aksara Bali di Bandara yang dianggap salah (atas) dan penulisan yang benar dari Nala Antara (bawah) 

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Salah satu gebrakan Gubernur Bali, Wayan Koster, adalah Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 80 Tahun 2018 tentang perlindungan dan penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali.

Gebrakan ini telah diterapkan dan secara perdana dibuktikan pada papan nama Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai yang menggunakan aksara Bali sejak 5 Oktober lalu.

Baca: Ini Penulisan I Gusti Ngurah Rai International Airport yang Benar Dalam Aksara Bali Menurut Nala

Selain memunculkan euforia kebanggaan akan gebrakan ini, ada pula yang teliti melihat kesalahan pada penulisan aksara Bali di bandara tersebut. Hal ini pun sempat ramai dibahasi di media sosial (medsos).

Hal ini pun sampai ke telinga Gubernur Koster. Ia pun mengakui ada kesalahan dan dirinya segera akan lakukan perbaikan.

“Saya sudah dengar itu, memang ada kesalahan. Tetapi saya kira itu soal kecil, karena ini menyangkut tata cara penulisan. Mungkin salah sedikit, karena memang waktunya agak terburu-buru dan saya akan meminta kepada pihak manajemen Angkasa Pura untuk memperbaiki,” katanya kepada Tribun Bali, Kamis (11/10), di Sofitel, Nusa Dua, Badung.

Pihaknya pun akan melakukan koordinasi dengan pakar aksara, seperti di Universitas Udayana, sehingga bisa diganti dengan yang benar.

“Ya kalau bisa dalam minggu inilah. Secepatnya,” tegasnya.

Kesalahan ini awalnya diungkapkan dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Bali, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana, Nala Antara. Nala juga merupakan pakar aksara Bali di Unud.

“Jadi awalnya itu banyak sekali orang yang mengirim gambar papan nama di bandara itu ke handphone. Saya kemudian diminta mengkoreksi karena ada kesalahan. Sebagai akademisi tentu saya mengkoreksi dan meluruskan yang benar. Tapi saya tidak ada akses ke bandara, sehingga saya berinisiatif mengunggahnya ke media sosial Facebook,” jelasnya, kemarin.

Unggahan ini diharapkan bisa sampai ke pihak bandara, dan segera dilakukan koreksi. Namun tak dinyana, komentar cukup banyak baik pro dan kontra di akun pribadi pria asli Karangasem ini.

Nala menjelaskan kesalahan pada papan nama tulisan aksara Bali itu terdapat pada kata ‘internasional’ dan ‘airport’ saja.

“Jadi salah satu aturan dalam pasang aksara Bali, menyebutkan bahwa kata-kata yang berasal dari Bahasa Indonesia, bahasa daerah lain, bahasa asing. Yang kemudian ditulis menggunakan aksara Anacaraka dan aksara suara, maka penulisannya disesuaikan dengan ucapan dalam bahasa Balinya,” jelas Nala.

Seperti pada kata ‘Airport’ akan dilafalkan ‘aerpot’ ketika diucapkan langsung. Maka penulisannya sesuai aksara Bali menjadi aerpot juga.

Kemudian Aer pada Bahasa Bali ini, jika dibuat ke dalam aksara harus menggunakan Ai Kara atau Airsania yang bersuara air atau aer.

“Saya tidak ada maksud apa-apa, hanya ingin membenarkan yang salah sebagai seorang akademisi di Bahasa dan Aksara Bali,” katanya.

Ia pun pada dasarnya sangat bangga atas gebrakan ini dan ikut merasakan euforianya. Selain di bandara, pemakaian aksara Bali juga berlaku untuk papan nama Kantor Gubernur, DPRD Bali, dan Kantor Bupati/Wali Kota, serta instansi pemerintahan lainnnya.

“Saya senang saat warisan budaya Bali dilestarikan dan digunakan, diajegkan,” kata Nala, sembari berharap apabila ada penulisan aksara Bali bisa mengajak para pakar agar tidak terjadi kesalahan serupa. 

Sebelumnya, penulisan aksara Bali di papan kantor instansi di Klungkung juga masih banyak ditemukan kekeliruan dan belum sesuai pakem aksara Bali yang baik dan benar.

Beberapa penulisan aksara yang keliru terdapat di beberapa instansi, seperti depan Kantor Bupati Klungkung dan di Kantor Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) yang berada di lingkungan Kantor Bupati Klungkung.

Menurut penyuluh Bahasa Bali di Klungkung, Ida Ayu Oka Suryantari, kata “bupati”, bha-nya menggunakan bha kembang dan suku ilut. Namun ditulis bha-nya menggunakan bahasa biasa.

“Tulisan Semarapura juga keliru karena kalau dibaca menjadi Samarapura karena kurang pengangge suara berupa pepet,” ujar Ida Ayu Oka Suryantari, Senin (8/10) lalu.

Selain itu, pada papan nama Kantor Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) yang berada di lingkungan Kantor Bupati Klungkung, kekeliruan terletak pada penulisan singkatan “PKK”nya. Bahkan penulisan aksara Balinya juga tidak lengkap.

(ask/sup)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved