Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Ini Pandangan Dosen Fisipol Unud Terkait Fenomena Falling Star Callenge

Falling Star Callenge, Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unud, Ni Made Ras Amanda mengatakan, hal tersebut fenomena.

Penulis: Putu Supartika | Editor: Rizki Laelani
Instagram
Falling Stars Challenge 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Terkait fenomena Falling Star Callenge (FSC), Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unud, Ni Made Ras Amanda mengatakan, hal tersebut sebuah fenomena yang biasa.

Apalagi saat ini telah ada Falling Missquen Challenge (FMC) yang meng-counter hal tersebut dan merupakan bentuk perlawanan dari FSC ini.

"Media sosial itu sebuah ruang publik di mana tema atau isu berperang memenuhi benak di ruang publik ini. Apa yang ramai di media sosial, salah satu cara menunjukkan ketidaksetujun dengan hal itu ya dengan meng-counter," kata Ras Amanda ketika dihubungi, Rabu (17/10/2018) petang.

Baca: Pesta Miras dan Karaoke Berujung Maut, Putu Miki Santara Tak Tertolong Saat Tersengat Listrik

Baca: Semangat I Putu Agus Budiarta, Korban Kecelakaan yang Optimistis Jadi Koki Tanpa Satu Kaki

Baca: Banyuwangi Gelar Pelatihan Pemrosesan Ajak Pelaku Usaha Kopi Naik Kelas

Memang FSC ini kesannya pamer kekayaan dan bagi sebagian orang menganggap hal itu lucu, lebay, dan tanggapan beragam lainnya.

Akan tetapi, pengguna media sosial juga banyak yang cukup cerdas menanggapi hal tersebut.

"Sehingga di sana ada kreasi lainnya yang salah satunya ya FMC ini. Biar keduanya saling menyeimbanglah," tambahnya.

Ras Amanda FSC ini datang dari luar negeri yang diikuti selebriti Indonesia dan ditirulah oleh kaum milenial lainnya.

Menurutnya, FSC ini juga bukan sebuah seni fotografi dan bukan juga sebagai pertanda kemunduran pola pikir seseorang.

Justru ini merupakan sebuah kreativitas dari seseorang.

Baca: Lempar Pujian untuk Melvin, VdV sebut Rekannya Itu Bisa Cetak 34 Gol

Baca: APRN dan PRIA Kerjasama Buka Peluang Kerja di Benua Australia

Baca: Ini Jawaban Melvin Platje Saat Ditanya Soal Laga Penting Kontra Arema FC di Stadion Kanjuruhan

Namun, karena belakangan ada FSC yang menggunakan simbol-simbol agama Hindu di Bali, maka hal ini menjadi kontroversi.

"Tapi kalau saya sih lihatnya, apa yang viral ya tidak harus selalu diikutin ya. Kita sebagai netizen sebaiknya punya seperti sensor diri mana yang diikuti mana yang cukup dilihat saja," tambahnya.

Ia pun memberikan sedikit saran kepada pengguna media sosial agar tidak membuli orang yang melakukan ini, melainkan melakukan counter dengan sesuatu yang lebih baik dan bijak.

Pilih mana yang baik dan tidak, tahan jempol untuk tidak membagikan hal-hal yang bisa menjadi membuat kontroversi.

Lebih bijaklah saat memberikan komentar sehingga tidak membuat yang membuat challenge tersebut merasa dihakimi.

Utamakan etika dan berkomentar menggunakan logika.

"Intinya lakukan cek dan ricek dan pahami apakah akan menimbulkan ketersinggungan atau tidak," katanya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved