Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Proses Pembuatan Garam Halus: Dalam 5 Jam Hasilkan 6 Karung

Rumah tersebut merupakan tempat proses pembuatan garam halus yang dikonsumsi masyarakat

Tayang:
Penulis: Rino Gale | Editor: Irma Budiarti
Tribun Bali/Rino Gale
Suasana peroses pembuatan garam halus di perkampungan sekitaran Jalan Raya Pelabuhan Benoa, Rabu (17/10/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Rino Gale

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Rabu (17/10/2018) kemarin, Tribun Bali mendatangi sebuah rumah berdinding anyaman bambu.

Kepulan asap terlihat membubung hingga atap.

Kayu bakar ditumpuk di sekitar halaman.

Rumah tersebut merupakan tempat proses pembuatan garam halus, yang tidak terlepas dari keseharian kita.

Bertempat di perkampungan sekitaran Jalan Raya Pelabuhan Benoa, proses pembuatan garam dimulai di tempat ini.

Masuk ruangan, Tribun Bali menjumpai salah satu karyawan bernama Jumain (30) asal Lombok.

Berbadan kekar dengan pakaian oblong serta memakai topi terbalik, ia terlihat sesekali mengaduk dua kompor berbentuk persegi panjang, satu kompor itu dipetakan menjadi tiga kotak yang berisi air garam mendidih dengan suhu api sangat besar.

"Saya baru 10 hari kerja di sini, kebutulan ada paman yang mengajak untuk kerja. Cukup dua kali pengadukan saja, karena kalau terlalu diaduk mengkibatkan garam menjadi kasar. Api yang dihasilkan dari kayu bakar sangatlah besar dan merata agar tidak lengket nantinya. Dengan itu kami tinggal membersihkan busa-busa kotor yang dihasilkan dari penguapan tersebut. Setelah jadi garam, apinya kami kecilkan," ujarnya.

Di ruangan ini suhu terasa sangat panas, bahkan Tribun Bali sampai mengeluarkan air mata akibat asap yang mengepul memenuhi ruangan.

Tribun Bali kemudian bergeser ke ruangan berikutnya.

Di ruangan kedua ini, Tribun Bali berjumpa satu karyawan lainnya, Made Putu (33) asal Karangasem.

Made Putu mengaku sudah bekerja di sini selama empat tahun.

Ia menceritakan terkait proses pembuatan garam masak atau direbus.

Proses merebus air garam menjadi garam halus membutuhkan waktu 5 jam.

Ia mengaku bekerja mulai puku 07.00 WITA sampai pukul 15.00 WITA.

"Sekali masak bisa menghabiskan waktu 5 jam. Bayangkan saja betapa panasnya kami bekerja, gak usah mengeluh. Jadi, awalnya garam ini dari Madura. Biasanya perbulan bos nyetok kiriman sampai empat truk. Garamnya masih berbentuk bongkahan bola-bola besar, ya masih bahan mentah istilahnya. Kemudian kami campurkan dengan air payau dan kemudian direbus," jelasnya.

Satu kali masak selama lima jam, dengan total cetakan enam kotak bisa menghasilkan lima sampai enam karung garam halus.

"Biasanya pembeli ramai pada saat galungan. Kalau bulan-bulan ini sih sepi, jadi gak tentu pembelinya bisa beli berapa karung. Kami jual satu karung garam halus dengan harga Rp 150 ribu," ujarnya.

Dengan pekerjaan yang tidak mudah walaupun di dalam ruangan, hasil upah yang didapat perhari bisa mencapai Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu.

"Sistemnya borongan. Jadi sekali masak kami dapat Rp 50 ribu. Tapi kalau dua kali masak Rp 100 ribu, kalau bisa tiga kali masak Rp 150 ribu. Ya rata-rata kami cuman dua kali masak dengan upah sekian. Gak kuat kalau sampai tiga kali masak. Wah kalau pas mau masak terus nyendok atau mengaduk, tangan terasa panas, kemudian keringat terus bercucuran. Bayangkan saja satu galon air, itu habis dalam sehari untuk satu orang saja," ungkapnya.

Tambahnya, sebagai tambahan upah, sering kali ia memilah paku satu persatu yang tertancap di kayu bakar dan kemudian dikumpulkan untuk dijual.

"Ya buat uang rokok atau makan, kami andalkan paku-paku yang tertancap di kayu bakar. Jadi paginya mau kerja, kami bersihkan kompor serta arang-arang kayu itu, jelas paku kan sudah terlepas, ya kami kumpulkan. Kami kumpulkan sampai penuh ember kecil itu, kemudian kami kilokan (jual). Gimana lagi tuntutan ekonomi," ujarnya sambil tertawa.(*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved