Virus ASF di Bali
Kemunculan ASF Resahkan Peternak, Disperpa Badung Terjunkan Tim Pengawas
Kemunculan virus African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika kembali menghantui peternak di Kabupaten Badung.
Penulis: I Komang Agus Aryanta | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, BADUNG - Kemunculan virus African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika kembali menghantui peternak di Kabupaten Badung.
Banyak babi yang mati secara mendadak.
Oleh karenanya, Pemkab Badung mulai melakukan kewaspadaan agar kasus tersebut tidak muncul di Kabupaten Badung.
Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kabupaten Badung pun langsung bergerak cepat dengan menerapkan langkah-langkah preventif.
Baca juga: Targetkan Juni-Juli 2026, Bali Siap Distribusikan 50 Ribu Vaksin ASF ke Peternak
Upaya ini sejalan dengan Surat Edaran Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Nomor 8492/SE/PK.320/F/08/2025 terkait kewaspadaan terhadap peningkatan kasus ASF di kawasan Asia Pasifik.
Kepala Disperpa Badung, Anak Agung Ngurah Raka Sukadana, menegaskan pihaknya tidak ingin lengah menghadapi ancaman tersebut.
Tim kesehatan hewan pun telah diterjunkan untuk melakukan pemantauan langsung ke sejumlah sentra peternakan babi di Badung.
"Kami telah menerjunkan Tim Kesehatan Hewan (Keswan) untuk melakukan pengecekan langsung ke kantong-kantong peternakan babi di Badung. Hal itu untuk mengantisipasi munculnya kasus ASF," ujarnya Selasa 2 Juni 2026.
Baca juga: 25 Babi di Buleleng Mati Akibat ASF dalam Seminggu, Tanpa Gejala, Mati Mendadak
Lebih lanjut monitoring ketat ini dilakukan untuk memastikan kondisi kesehatan ternak warga tetap terjaga.
Selain pengawasan lapangan, Disperpa Badung juga menggencarkan edukasi kepada peternak melalui kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE).
Edukasi ini menitikberatkan pada pemahaman bahaya ASF, gejala klinis, hingga jalur penularannya. Sehingga masyarakat atau peternak bisa lebih waspada.
"Kami juga memperketat sistem pembatasan dan pengawasan akses keluar masuk kandang guna meminimalkan pembawa pembawa virus dari luar," katanya.
Baca juga: Virus ASF Serang Babi di Bali, Kasus Mulai Merebak, Peternak Diminta Tingkatkan Biosecurity
Sebagai langkah lanjutan, Disperpa mewajibkan penyemprotan desinfektan secara rutin di area kandang dan fasilitas peternakan. Kebijakan ini dituangkan dalam edaran resmi yang telah disebarkan kepada seluruh peternak di Badung.
"Kami mewajibkan penyemprotan cairan desinfektan pada area kandang dan sarana prasarana peternakan secara berkala," ucapnya.
Tak hanya itu, Disperpa juga melarang keras praktik swill feeding atau pemberian pakan dari sisa makanan hotel, restoran, maupun warung. Praktik tersebut dinilai menjadi salah satu jalur utama penyebaran virus ASF.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Tim-Kesehatan-Hewan-dari-Dinas-Pertanian-dan-Pangan-Badung-saat-melakukan-sosialisasi.jpg)