Berita Bali
Targetkan Juni-Juli 2026, Bali Siap Distribusikan 50 Ribu Vaksin ASF ke Peternak
Hantaman virus ASF tidak hanya mengancam populasi ternak, tetapi juga bayang-bayang kerugian finansial yang besar
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Sektor peternakan babi di Bali tengah mendapatkan perhatian ekstra dari pemerintah setempat.
Guna menangkal ancaman virus African Swine Fever (ASF) yang berpotensi memicu dampak masif, Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan terus memperketat benteng pertahanan.
Langkah ini diwujudkan melalui pengawasan ketat kesehatan hewan, edukasi masif, disiplin biosekuriti, hingga persiapan menyambut program vaksinasi massal yang disokong oleh pemerintah pusat pada tahun 2026.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Wayan Sunada, menegaskan bahwa langkah preventif ini sangat krusial.
Baca juga: 25 Babi di Buleleng Mati Akibat ASF dalam Seminggu, Tanpa Gejala, Mati Mendadak
Pasalnya, hantaman virus ASF tidak hanya mengancam populasi ternak, tetapi juga bayang-bayang kerugian finansial yang besar bagi para peternak lokal.
Untuk itu, koordinasi dengan petugas kesehatan hewan di tingkat kabupaten/kota terus diintensifkan guna memantau kondisi di lapangan. Peternak juga terus dipacu untuk menjaga higienitas kandang secara ketat.
“ASF menjadi perhatian serius karena penularannya cukup cepat dan dapat menyebabkan kematian pada ternak babi. Karena itu, kewaspadaan harus terus ditingkatkan oleh seluruh peternak,” ujar Wayan Sunada pada Sabtu 30 Mei 2026.
Sebagai bagian dari strategi penanganan terpadu, Provinsi Bali dijadwalkan menerima jatah vaksin ASF sebanyak 50.000 dosis dari pemerintah pusat pada tahun ini.
Tak hanya itu, untuk memastikan perlindungan yang menyeluruh, Bali juga kecipratan alokasi vaksin Classical Swine Fever (CSF) sebanyak 20.360 dosis.
Saat ini, proses pengadaan vaksin ASF tengah digodok oleh pemerintah pusat dan ditargetkan rampung pada Juni 2026, sebelum akhirnya didistribusikan ke daerah-daerah pada Juli 2026.
“Pemerintah pusat saat ini sedang melakukan proses pengadaan vaksin ASF. Setelah distribusi dilakukan ke daerah, kami akan menyiapkan langkah teknis pelaksanaan vaksinasi sesuai sasaran yang telah ditetapkan,” jelasnya.
Mengenai target penerima, Wayan Sunada memaparkan bahwa prioritas utama suntikan vaksin ASF ini akan diarahkan pada babi pejantan dan indukan.
Kelompok babi penggemukan sengaja tidak diprioritaskan karena siklus hidupnya di peternakan tergolong singkat sebelum akhirnya dipotong untuk konsumsi.
“Babi pejantan dan indukan menjadi prioritas karena memiliki nilai penting dalam keberlanjutan produksi dan pembibitan ternak babi. Sedangkan ternak penggemukan umumnya dipelihara dalam waktu lebih pendek untuk kebutuhan konsumsi,” katanya.
Di samping faktor vaksin, penerapan prosedur biosekuriti dinilai tetap menjadi senjata paling ampuh untuk memutus rantai penularan ASF.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Salah-satu-aktivitas-peternak-babi-menjelang-Hari-Raya-Galungan-478.jpg)