I Gusti Ngurah Rai Sosok yang Kharismatik, Humanis Dan Pengayom Rakyat
Ketika itu I Gusti Ngurah Rai bersama para pejuang turun dari Gunung Agung menuju ke Tanah Aron.
Penulis: Putu Supartika | Editor: Eviera Paramita Sandi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Pejuang I Gusti Ngurah Rai adalah sosok yang sangat kharismatik sekaligus humanis.
Ia sangat peduli dengan rakyat maupun pasukannya.
Hal ini dikatakan oleh Wayan Sudarta, salah satu penyusun buku I Gusti Ngurah Rai Pahlawan Nasional: Sisi-Sisi Humanis dalam Perang Kemerdekaan Indonesia di Bali dan buku Puputan Margarana Pertempuran Terdahsyat pada Masa Revolusi Fisik di Bali.
"Perlakuan beliau kepada rakyat dan pasukannya sangat humanis sekali. Rakyat memang benar-benar diayomi oleh Pak Rai sehingga pertempuran di tempat-tempat pemukiman betul-betul dihindari oleh beliau," kata Dosen Unud ini ketika dihubungi, Selasa (20/11/2018) pagi.
Termasuk dalam peristiwa Puputan Margarana beliau tidak ingin perang itu terjadi di Wilayah Kelaci yang ramai penduduknya dan akhirnya memilih di tengah ladang.
"Beliau tidak ingin rakyat jadi korban dan mencari tempat di sini (ladang) padahal perlindungan dari udara tidak ada. hanya perlindungan darat seperti pohon jagung tembakau dan lain-lain saja yang ada. Jadi tanpa memperhatikan yang lain pokoknya rakyat itu aman," imbuhnya.
Hal itu juga tampak saat perjalanan gerilya dari barat menuju ke timur yang dikenal dengan istilah long march Gunung Agung.
Sepanjang perjalanan para pejuang tidak dibenarkan memetik pepaya, pisang atau hasil bumi lain milik rakyat yang kebetulan dilewatinya walaupun dalam keadaan lapar.
"Hal-hal seperti itu sangat mendapat perhatian dan para pejuang mengikuti," tuturnya.
Begitupula saat pembagian ketupat.
Ketika itu I Gusti Ngurah Rai bersama para pejuang turun dari Gunung Agung menuju ke Tanah Aron.
Di Tanah Aron, rakyat dari sekitarnya membawakan ketupat untuk para pejuang.
"Ketupat itu terbatas jumlahnya oleh karena itu tidak boleh satu pejuang mengambil satu ketupat pada setiap orang dan itu ditaati. Beliau sangat kasihan pada anak buahnya yang tidak makan. Dan beliau sangat mengayomi pasukan dan juga rakyat," katanya.
Selain humanis ia juga memiliki kharisma.
Walaupun Ngurah Rai ramah dan dekat namun tak ada yang berani mendekat.
"Rakyat atau prajurit walaupun beliau dekat dengan mereka, namun mereka tidak ada yang berani mendekat karena kewibawaan beliau luar biasa. Kharismatik. Padahal beliau ramah, dekat dengan rakyat, dekat dengan anak buah tapi tidak berani mendekat kecuali beliau yang memanggil," imbuhnya.
Sehingga Ngurah Rai merupakan sosok yang sangat berwibawa, ramah, dan humanis. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/sosok-i-gusti-ngurah-rai.jpg)