Karya Sastranya Tak Laku di Bali, Malah Dikoleksi di Belanda, Nyoman Manda: yang Beli Mahasiswa
Usianya memang tak muda lagi, sudah 79 tahun. Namun semangatnya untuk mengabdi pada sastra Bali modern tak pernah padam.
Penulis: Putu Supartika | Editor: Ady Sucipto
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Usianya memang tak muda lagi, sudah 79 tahun. Namun semangatnya untuk mengabdi pada sastra Bali modern tak pernah padam.
Pria kelahiran Pasdalem Gianyar 14 April 1939 ini bernama I Nyoman Manda dan telah pensiun menjadi guru sejak tahun 1999.
Bagi mereka yang serius belajar mata pelajaran Bahasa Bali dari SD hingga SMA, maka nama I Nyoman Manda dengan karyanya akan sering dijumpai di dalam buku ajar maupun lembar kerja siswa.
Ia telah menerbitkan lebih dari 90 buku baik berupa kumpulan cerpen, novel, puisi, drama berbahasa Bali maupun berbahasa Indonesia.
Sebut saja beberapa judul bukunya Ganda Sari (bersama pengarang Made Sanggra), Togog, Masan Cengkehe Nedeng Mabunga, Kuuk, Lelakut, Bungan Gadung Ulung Abancang, Kasih Bersemi di Danua Batur, dan karya-karya lainnya.
Dalam menerbitkan semua buku ini, Manda menggunakan uang tabungannya sewaktu jadi guru serta uang pensiunannya.
"Sing ada anak ngerunguang, bapak mula sing bisa ngidih-ngidih ke bupati atau pejabat (Tidak ada yang hirau, Bapak memang tidak bisa minta-minta ke bupati atau pejabat). Sekarang pakai uang pensiunan, kalau dulu pakai gaji yang bapak sisakan," kata mantan Kepala SMAN 1 Gianyar tahun 1997-1999 ini, ketika ditemui Sabtu (24/11).
Selain menerbitkan buku, ia juga mengelola dua majalah sastra Bali modern (berbahasa Bali) yaitu majalah Satua dan Canangsari yang dirintisnya bersama almarhum Made Sanggra tahun 1998.
"Dulu sebelum Pak Sanggra meninggal, beliau membantu penerbitan majalah ini, dikasi uang 500 ribu. Namun sejak beliau meninggal tahun 2005, saya menerbitkan pakai uang sendiri," katanya.
Setiap terbit majalah ini, I Nyoman Manda mengeluarkan uang sebesar Rp 2,4 juta. Belum lagi untuk menerbitkan buku, yang dalam setahun ia bisa menerbitkan enam buku.
Selain kendala biaya, Manda juga terkendala dalam hal penjualan buku karena memang buku berbahasa Bali, khususnya yang bergenre sastra Bali modern, memang tidak banyak yang membeli.
"Setiap menerbitkan buku, tidak berani menerbitkan banyak-banyak, paling 100 eksemplar saja. Tidak ada yang beli, yang beli hanya mahasiswa yang mau kerjakan skripsi," keluhnya.
Saat ini, kata I Nyoman Manda, banyak mahasiswa yang datang untuk membuat skripsi tentang novel karyanya.
Hal ini lantaran tak banyak penulis novel berbahasa Bali yang aktif di Bali.
"Novel baru banyak yang beli, tapi itupun mahasiswa untuk skiripsi. Makanya saya punya banyak skripsi di rumah. Mahasiswa yang skripsian ngasi saya kamben makanan sehingga nama saya banyak tercantum di dalam skripsi mahasiswa Bahasa Bali di Unud, Unhi, IHDN, juga Undiksha," katanya.