Dharma Wacana
Ritual Agnihotra Yang Terasingkan
Agnihotra atau ritual dengan sikap melingkari kobaran api, saat ini kerap dilakukan di Bali.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Ady Sucipto
Oleh Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda
TRIBUN-BALI.COM, -- Agnihotra atau ritual dengan sikap melingkari kobaran api, saat ini kerap dilakukan di Bali.
Di tengah kekhusyukan umat yang menggelar ritual Agnihotra ini, tidak sedikit mereka mendapatkan cibiran dari oknum-oknum masyarakat Hindu di Bali, yang mengatakan bahwa itu ’keindia-indiaan’.
Ada pula yang mengatakan, ‘ini mengancam tradisi upacara Bali’.
Hal tersebut terjadi. karena menurut masyarakat Hindu yang awam terhadap ajaran Weda, Agnihotra merupakan tradisi umat Hindu di India.
Apakah benar demikian adanya? Apa esensi dari ritual Agnihotra ini?
Kalau bicara masalah ritual, ritual yang tersurat di dalam Weda ialah apa yang disebut dengan Yadnya Agnihotra.
Kenapa Agni, di dalam petikan mantra Rg Wida I.1.1 termaktub “Agnimile Purohitam, yajnasya devam rtvijam, Hotaram ratnadhatanam”.
Artinya, “Oh Dewa Agni, Engkau sebagai pendeta utama, dewa pelaksana upacara yadnya, kami memuja-Mu, Engkau pemberi anugerah berupa kekayaan yang utama,”.
Selain itu, pengertian yadnya dalam Weda adalah persembahan yang dituangkan ke dalam api suci.
Mengapa persembahan dimasukkan ke dalam api suci? Hal ini disebutkan dalam purana bahwa Dewi Api atau Agni merupakan lidah Tuhan.
Jika persembahan disampaikan melalui lidah Tuhan, maka persembahan akan tepat sasaran.
Maka dengan demikian, Agnihotra merupakan persembahan yang sangat wajib dilakukan.
Lalu bagaimana bisa ritual yang seharusnya wajib ini, justru menjadi upacara besar yang seolah-olah hanya bisa dilakukan dalam hari-hari tertentu?
Hal ini tak terlepas dari masuknya ajaran Tantra Yadnya. Dalam hal ini, ada unsur material yang masuk ke dalamnya, sehingga ritual tidak hanya berhenti di Agnihotra.