Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Inspirasi

Juragan Kodok di Tabanan Bali Banjir Pesanan, Daging Kodok Digemari Wisatawan China

Wayan Nuastra menceritakan, usaha yang digelutinya saat ini berawal dari hobinya memelihara hewan termasuk kodok.

Tayang:
Tribun Bali/I Made Prasetia Aryawan
I Wayan Nuastra saat menunjukan dua indukan kodok jantan dan betina di tempat budidaya kodok di rumahnya di Banjar Pande, Desa Jegu, Kecamatan Penebel, Tabanan, Selasa (11/12/2018). 

Untuk makannannya, kata dia, mulanya kodok diberikan makanan berupa bekicot.

Dan bekicot tersebut berhasil membuat kodok memiliki berat hingga sekitar 1 kilogram.

Namun seiring berjalanna waktu, bekicot pun mulai susah didapat sehingga diganti dengan memberi pakan pellet lelet dan digunakan hingga saat ini.

“Tapi jika dilihat dari kasiatnya, bekicot jauh lebih bagus digunakan pakan daripada pellet. Karena pertumbuhan kodok lebih bagus,” jelasnya.

Pria yang akrab disapa Pak Kodok ini melanjutkan, untuk menernak kodok juga membutuhkan waktu yang lumayan panjang atau sekitar 6 bulan.

Sebab, kodok harus melalui beberapa proses untuk selanjutnya bisa dijual kepada hotel atau restauran yang memiliki menu masakan berbahan dasar kodok.

Dimulai dari indukannya kawin, kemudian bertelur hingga telurnya menetas membutuhkan waktu 1 bulan.

Kemudian setelah menetas atau kecebong hingga menjadi katak membutuhkan waktu dua bulan.

Dan dari katak hingga ukuran siap jual membutuhkan waktu sekitar dua bulan tergantung pertumbuhan kodok itu sendiri.

“Jika masa panennya tidak sekalian, itu tergantung dari pertumbuhan kodok sendiri. Tapi biasanya jika dari umur katak hingga menjadi kodok siap jual sekitar dua bulan,” katanya seraya menyebutkan harga kodok per kilogramnnya senilai Rp 50 ribu.

Hingga saat ini pemasaran daging kodok ini masih di wilayah Bali.

Banjir pesanan tidak hanya datang dari wilayah Bali, tetapi juga dari luar Bali.

Untuk luar Bali memang ada permintaan, namun ia takut tak bisa memenuhi jumlah pesanan yang begitu besar.

“Banyak yang memesan tapi kami tidak menerimanya, karena ditakutkan tak bisa memenuhi pesanan,” imbuhnya.

Dia menjelaskan, banyaknya permintaan daging kodok biasanya berasal dari wisatawan dari Jepang dan China.

Sebab, daging kodok memiliki kandungan kolesterol yang sangat rendah.

Sehingga, daging ini sangat cocok untuk masyarakat yang sedang mengalami kolesterol tinggi namun tetap ingin mengkonsumsi daging.

“Kurang lebih seperti itu. Saya harapnya anak saya nanti akan meneruskan usaha ini karena budidaya kodok saat ini sangat jarang ditemukan,” tandasnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved