Dharma Wacana
Dharma Wacana : Busana Sembahyang Umat Hindu, Begini Pencerahan Menurut Ida Pandita
Belakangan ini, banyak umat yang mempertanyakan bagaimana sebenarnya pakaian agama Hindu itu.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Ady Sucipto
oleh Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda
TRIBUN-BALI.COM, -- Belakangan ini, banyak umat yang mempertanyakan bagaimana sebenarnya pakaian agama Hindu itu. Sebab di setiap daerah, pakaian yang dikenakan sangat jauh berbeda.
Tak seperti umat agama lain, secara universal memakai seragam sama tatkala hari-hari keagamaan mereka.
Apakah Weda tidak mengatur pemakaian busana untuk umatnya? Sebab menurut sebagian besar orang, busana merupakan salah satu musuh dari pengontrolan nafsu birahi.
Kalau kita berbicara masalah pakaian, kitab suci Weda tidak mengatur hal tersebut.
Sebab Hindu merupakan sebuah ajaran, yang menuntun umat manusia bisa memusatkan pikirannya pada Sang Pencipta.
Setiap material yang ada, bahkan yang dapat mengganggu kesucian pikiran kita, sengaja diciptakan untuk menguji tingkat spiritual kita.
Jadi, setiap yang menurut kita tidak bagus, tak harus kita musnah secara nyata. Tapi kita harus berdamai dengannya.
Jika kita sudah bisa mendamaikan pikiran dengan hal yang menurut kita buruk, saat itulah pikiran kita berada pada tingkat kesucian murni.
Kembali ke soal pakaian agama, Weda tak mengatur hal ini. Namun dia (pakaian) masuk pada sebuah sistem budaya.
Ketika kita berbicara masalah sistem budaya, tentu ada tiga hal yang harus dibangun. Yakni, spirit, kemudian ideologi pranata, dan wujud material.
Nah, apapun bentuk pakaian itu. Ketika sudah digunakan untuk tujuan persembahyangan, tentu di situ ada spirit, dunia ide, dan wujud, maka dia akan menjadi sebuah simbol atau memiliki nilai dan makna.
Contohnya udeng, yang dikenakan umat Hindu di Bali. Udeng ini dimaknai sebagai pengikat pikiran manusia, supaya tidak goyah dan selalu terpusat pada satu hal, yakni Sang Pencipta.
Lalu bagaimana dengan umat Hindu di daerah lain, tentunya tidak sama.
Agama dan budaya haruslah berjalan beriringan. Agama Hindu bukanlah ajaran untuk menjajah, namun ajaran untuk memusatkan pikiran pada Tuhan.
Saat ini banyak agama yang melakukan penjajahan budaya, sehingga umatnya kehilangan jati diri.
Kita harus bersyukur, karena agama Hindu membangun jati diri, dan memberikan spirit bagi pemuliaan setiap budaya yang hadir.
Lalu bagaimana dengan pakaian kita di alam akhirat? Kalau kita berbicara soal dunia eskatologi, kembali kita bicara soal kebiasaan.
Surga dan neraka, itukan masuk dunia pikiran. Dunia pikiran itu kan dikonstruksi (dibentuk) oleh kebiasaan kita di dunia ini.
Maka, kalau berbicara masalah pakaian fisik di alam eskatologi ini, kan fisik sudah tidak ada. Namun dalam konsep niskala secara Hindu, baju yang dimaksud bukanlah baju material ini.
Melainkan Tri Kaya Parisudha, yakni perilaku baik kita saat hidup di alam material. Itulah yang menjadi pembungkus kita, untuk terhindar dari siksaan api neraka.
Dan, konsep kesorohan di Bali, seperti kajang, itu juga memberikan peningkatan status bagi roh. (*)