Optimalkan Dua dari Tiga Sumber Air, Kekeringan di Desa Awan Kintamani Mulai Tertangani
Permasalahan air di wilayah Desa Awan, Kintamani perlahan mulai tertangani melalui pembuatan bak penampungan air untuk memenuhi kebutuhan masyarakat
Penulis: Muhammad Fredey Mercury | Editor: Irma Budiarti
TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Permasalahan air di wilayah Desa Awan, Kintamani perlahan mulai tertangani.
Wilayah desa tersebut telah membuat bak penampungan air untuk memenuhi kebutuhan masyarakat mulai dari rumah tangga, ternak, hingga pertanian.
Dua dari tiga sumber air berhasil dioptimalkan.
Perbekel Desa Awan, Sang Nyoman Putra Erawan tidak memungkiri wilayahnya memang sempat mengalami kesulitan air.
Ini disebabkan sumber mata air yang berada di wilayah Desa Awan berada di bawah dari pemukiman sehingga membutuhkan biaya yang cukup besar untuk menaikkan air ke permukaan.
“Setidaknya ada tiga sumber mata air di Desa Awan dengan debit yang tergolong besar. Namun posisi desa kami berada di atas. Sedangkan sumber air berada di bawahnya dengan jarak berkisar 150 hingga 200 meter ke bawah. Demikian pula dengan sumber air lainnya yang berjarak sekitar 200 hingga 300 meter. Jadi tidak memungkinkan untuk mengelola sumber mata air melalui sistem grafitasi,” ujarnya, Senin (24/12/2018).
Mengenai persoalan air ini, pihak PDAM sudah sempat mengupayakan pembuatan saluran pada tahun 1994.
Hanya saja terkendala pada pipa akibat derasnya debit air.
Pipa kerap mengalami kerusakan.
Di sisi lain, pihak desa juga berupaya mengantisipasi kesulitan air ini dengan pembuatan bak penampungan air yang dipenuhi dengan sistem pompa dari sumber mata air yang ada di wilayah sekitar.
Erawan mengatakan, semula bak penampungan air yang ada di wilayahnya hanya empat bak penampungan dan masing-masing mampu menampung air sebanyak 24 meter kubik.
Namun dengan bantuan dana dari pemerintah pada tahun ini, pihaknya mampu menambah bak penampungan air baru sehingga diyakini mampu memenuhi 80 persen kebutuhan air masyarakat.
“Bak penampungan air yang baru ini mampu menampung air sebanyak 123 meter kubik. Kalau digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, dipastikan tidak akan kekurangan. Lain halnya jika digunakan untuk bisnis, seperti ternak maupun usaha pertanian,” ucapnya.
Meski dirasa mampu memenuhi kebutuhan air hingga 80 persen, Erawan tidak memungkiri kedepan pihaknya akan mengusulkan bantuan serupa untuk pembuatan bak penampungan air baru.
Selain untuk memenuhi 20 persen kebutuhan air di masyarakat, pembuatan bak penampungan baru juga untuk mengoptimalkan satu sumber mata air di wilayah sekitar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/bupati-bangli-meresmikan-bak-penampungan-air-di-desa-awan.jpg)