Jro Jangol Meninggal Dunia

Arwah Jro Jangol Beri Pesan ini Saat Ritual Nunas Baos, Sempat Tak Mau Berbicara Apa-apa

Arwah Jro Jangol Beri Pesan ini Saat Ritual Nunas Baos, Sempat Tak Mau Berbicara Apa-apa

Arwah Jro Jangol Beri Pesan ini Saat Ritual Nunas Baos, Sempat Tak Mau Berbicara Apa-apa
Tribun Bali
Jro Jangol Nunas Baos 

Ia mengatakan Jro Jangol meninggal karena sakit.

Dari laporan resmi yang ia terima, mantan politisi Partai Gerindra itu mengalami kejang-kejang dan penurunan kesadaran sebelum meninggal.

"Dari laporan yang masuk di petugas, bahwa dia itu kejang-kejang. Kemudian mengalami penurunan kesadaran. Hal itu dilihat langsung petugas di lapas dan sekitar pukul 01.00 Wita, masih bernapas dia, dan dirujuk ke RS Kasih Ibu Denpasar," jelasnya.

Laporan resmi yang dia terima, Jro Jangol tiba pukul 01.10 Wita di UGD dan dinyatakan meninggal pukul 04.39 Wita.

Dengan diagnosis dan observasi penurunan kesadaran Susp Toksit Ensefalopati plus gagal napas.

"Pas masuk di sana (rumah sakit, red), langsung ditangani dokter jaga. Setelah mendapat perawatan di UGD pasien langsung dirawat di ICU. Namun pada jam 04.39 Wita, dokter menyatakan meninggal dunia," lanjutnya.

Dari keterangan yang dia terima tersebut, sakit yang diderita almarhum mendadak karena sebelumnya tidak ada menderita penyakit.

"Dia baru sakit. Dia sakit juga itu diketahui petugas jaga terdepan, yang dilihat ada sesak napas dan lemas," ujarnya lagi menekankan.

Kasi Binadik Lapas Kerobokan, Nyoman Budi Utami, juga mengatakan Jro Jangol masih terlihat sehat sehari sebelum meninggal.

"Semua seperti biasanya dan terlihat baik-baik saja. Jro Jangol ya ceplas-ceplos juga kita lihat, saat ketemu keluarga juga terlihat senang," ujarnya, kemarin.

Budi Utami juga mengatakan, Jro Jangol sempat berkumpul dengan keluarga baik istri, anak, maupun keluarganya di Lapangan Lapas Kerobokan saat Hari Raya Galungan.

Setelah menerima kunjungan, tim medis Lapas Kerobokan sorenya juga mengecek kesehatan para warga binaan pemasyarakatan (WBP), termasuk Jro Jangol.

"Tiap sore pasti kita periksakan kesehatan warga binaan, ada yang sakit tidak, soalnya kalau malam kan tim medis gak ada yang keliling, tapi ada yang standby di klinik Lapas kita aja," jelasnya.

Namun saat malam hari petugas lapas mendapatkan informasi dari Wisma Danau Batur, bahwa Jro Jangol dalam kondisi tidak sadarkan diri dan kejang pada pukul 00.55 Wita.

Setelah dinyatakan meninggal di RS Kasih Ibu, keluarga bersama petugas Lapas Kerobokan mengurus jenazah Jro Jangol.

"Setelah semua syarat diurus, jenazah kita kembalikan ke pihak keluarga," tambahnya.

Keluhkan Batuk dan Sesak Saat Galungan

Suasana duka menyelimuti rumah almarhum Jro Gde Komang Swastika atau lebih dikenal dengan Jro Jangol di Jalan Pulau Batanta No 70, Banjar Seblanga, Denpasar Barat, Jumat (28/12/2018) siang.

Kerabat dekat, tetangga, dan lainnya berduyun-duyun berdatangan menyampaikan duka cita.

Kepergian Jro Jangol yang terkesan mendadak ini membuat keluarga besarnya sangat terpukul.

Apalagi almarhum sempat merayakan Galungan bersama keluarga di Lapas Kerobokan.

Menurut ipar almarhum, Jro Putra, mantan Wakil Ketua DPRD Bali itu tidak memperlihatkan tanda-tanda atau semacamnya.

Bahkan saat Hari Raya Galungan kemarin pun keluarga besuk ke Lapas Kerobokan, almarhum biasa bercanda bersama anak-anak dan istrinya.

“Kemarin Galungan dan Umanis Galungan kan kunjungan bersama dari pagi. Kondisinya biasa. Ia ceria bersama anak-anak dan istri,” tutur Jro Putra di rumah duka, kemarin.

Namun diakui, Jro Jangol sedikit mengeluhkan sakit flu dan batuk disertai sesak.

“Dini hari tadi (kemarin, red) merasakan sesak hingga terjatuh lalu dilarikan ke rumah sakit oleh pihak lapas,” lanjutnya.

Dari observasi pertama oleh tim medis RS Kasih Ibu Denpasar hingga ditangani di Ruang ICU tidak ada perubahan.

Akhirnya Jro Jangol dinyatakan meninggal dunia pukul 04.39 Wita.

“Jadi Jro tidak ada sempat pesan apa-apa. Dari awal sesak lalu jatuh di dalam sel Lapas Kerobokan hingga terakhir itu tidak ada pesan apa-apa ke keluarga. Dan kami keluarga juga tidak ada firasat atau pertanda apa-apa,” tutur Jro Putra dengan lirih.

Untuk prosesi pengabenan, keluarga besar telah memohon hari baik kepada sulinggih.

Ditetapkan ngaben dilakukan pada 4 Januari 2019.

“Serangkaian pengabenan Jro Jangol akan diawali dengan proses ngeringkes, ngajum, dan ngaskara pada 2 Januari 2019. Sedangkan tanggal 4 Januari merupakan puncak acara yakni pengabenan yang akan digelar di Setra Gandamayu Seblanga,” jelas Jro Putra.

Prosesi pengabenan langsung dilakukan karena Jro Mangol bergelar Jro Gede atau pemangku.

“Jadi tidak boleh ditanem. Memang harus diaben. Kalau dipendemin itu ngeletehin jagad jadi harus langsung diaben. Tapi kami ambil tingkatan upacara yang sederhana,” ujarnya.

Jro Putra mewakili pihak keluarga dari almarhum Jro Jangol juga menyampaikan permohonan maaf bila ada kesalahan-kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak sengaja oleh almarhum semasa hidupnya.(*)

Penulis: Zaenal Nur Arifin
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved