WIKI BALI
TRIBUN WIKI - 10 Tradisi Unik yang Ada di Kabupaten Gianyar Bali
Salah satu kabupaten di Bali yang memiliki budaya atau tradisi yang unik itu ialah Gianyar. Lalu apa saja tradisi unik yang ada di kabupaten itu?
Penulis: I Wayan Sui Suadnyana | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
8. Tradisi Maedeng
Baca: Perayaan Galungan Dinilai Mencolok dan Konsumtif, Peradah Bali Gelar Tradisi Ngejot untuk KK Miskin
Krama di Desa Pekraman Susut, Desa Buahan, Payangan memiliki tradisi unik menyambut upacara Tawur Kesanga.
Tradisi yang rutin digelar dua minggu sebelum hari raya Nyepi ini disebut “Maedeng” yakni memilih sepasang godel (anak sapi) jantan dan betina untuk dipersembahkan di Catus Pata dan Pura Dalem desa setempat.
Tradisi ini pun diikuti krama dengan membawa ratusan ekor godel di areal Setra Desa Pekraman Susut.
Tradisi “maedeng” ini sudah merupakan warisan secara turun-temurun dan wajib dilaksanakan.
Bahkan, persembahan sepasang godel untuk sesajen ‘tawur kesanga’ ini diyakini sebagai sebuah kewajiban desa.
Sesuai dengan cerita leluhur, pada masa lampau, desa setempat sempat diserang wabah penyakit mematikan serta paceklik berkepanjangan hingga akhirnya tradisi ini dilaksanakan.
9. Tradisi Siat Sampian
Tradisi Siat Sampian yakni perang-perangan menggunakan janur atau disebut Siat Sampian di areal Pura Samuan Tiga, Gianyar.
Tradisi yang selalu digelar tiga hari setelah puncak karya pujawali Pura Samuan Tiga ini sebagai simbol memerangi kejahatan atau adharma.
Tradisi ini melibatkan umat laki-laki yang disebut Parekan, dan umat perempuan yang disebut Permas.
Prosesi Siat Sampian diawali dengan Nampyog, yakni para Permas sebanyak 60 orang berjalan mengililingi halaman madya mandala pura sambil menari sederhana atau disebut Tari Sutri.
Nampyog dilakukan selama tiga kali, dan gerakannya selalu berubah.
Selama berkeliling, pinggang Permas diikatkan selembar selendang putih secara sambung-menyambung oleh para Permas di barisan berikutnya atau disebut proses Ngober.
Usai prosesi ngober, umat laki-laki melakukan maombak-ombakan, yakni para parekan saling berpegangan satu sama lain mengelilingi halaman pura.
Parekan yang saling berpegangan ini berputar selama tiga kali disertai dengan teriakan-teriakan seperti orang kesurupan.
Baca: Melestarikan Tradisi Bali Megibung Dalam Balutan Nuansa Modern di Hotel Santika Seminyak
Mereka pun berusaha agar dapat memegangi bangunan suci yang ada di pura.
Prosesi ini disertai dengan tetabuhan yang menambah semangat parekan dan permas untuk memulai Siat Sampian.
Puncaknya, para parekan saling lempar sampian yang sudah disiapkan.
Mereka kemudian saling pukul serta melempar sebagai simbol dari perang dengan menggunakan janur selama kurang lebih 15 menit.
10. Tradisi Mesabatan Api
Tradisi Mesabatan Api atau perang api dilakukan dengan menggunakan serabut kelapa.
Tradisi ini telah berlangsung lama di Desa Adat Nagi, Kabupaten Gianyar.
Tradisi tahunan itu sudah diwariskan oleh nenek moyang warga Desa Adat Nagi yang digelar sehari sebelum Hari Raya Nyepi untuk menciptakan keharmonisan, menyucikan alam sekaligus memupuk persaudaraan.
Tradisi tahunan ini menampilkan atraksi saling menyerang antarpemuda menggunakan serabut kelapa yang berisi api. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/mepeed_20161105_160148.jpg)