WIKI BALI

TRIBUN WIKI - 10 Tradisi Unik yang Ada di Kabupaten Gianyar Bali

Salah satu kabupaten di Bali yang memiliki budaya atau tradisi yang unik itu ialah Gianyar. Lalu apa saja tradisi unik yang ada di kabupaten itu?

TRIBUN WIKI - 10 Tradisi Unik yang Ada di Kabupaten Gianyar Bali
Tribun Bali/ I Nyoman Mahayasa
Tradisi mepeed yang dilaksanakan di Desa Sukawati, Gianyar, Bali, diikuti oleh berbagai kalangan, dari anak-anak hingga dewasa, Rabu (2/11/2016). 

Tradisi Siat Yeh atau Perang Air ini digelar setiap tahun tepatnya saat tahun baru Masehi dimulai yaitu tanggal 1 Januari di Desa Suwat Gianyar.

Tradisi ini merupakan tradisi yang unik karena jarang sekali ritual di Bali menggunakan kalender Masehi sebagai patokannya.

Tujuan dari digelarnya Tradisi Perang Air di Gianyar ini adalah sebagai bentuk pembersihan diri dari hal-hal negatif yang sudah terjadi pada tahun sebelumnya agar di tahun yang baru ini diharapkan tidak menimpa warga kembali.

Menurut warga Suwat, di awal tahun yang baru wajib bagi mereka untuk melakukan pembersihan pada alam sekitar dan diri sendiri agar pengaruh negatif yang ada di lingkungan sekitar ataupun di dalam diri kita sendiri dapat segera dimusnahkan.

6. Tradisi Ngedeblag
Tradisi unik di Bali berikutnya adalah Ngedeblag di Kemenuh Gianyar.

Ngedeblag adalah prosesi rutin yang digelar setiap enam bulan sekali (kalender Bali) tepatnya pada hari Kajeng Kliwon, pada saat peralihan sasih Kelima (bulan 5) ke sasih Kanem (bulan 6) dalam kalender Bali atau sekitar bulan September – Desember kalender masehi.

Para pengayah (peserta) laki-laki arus menggunakan kamben (kain) yang dilapisi dengan saput tanpa menggunakan baju.

Mereka juga dibuat menjadi seseram mungkin, dengan cat air warna warni, dan satu oles pamor yang dioleskan pada kening.

Tujuan digelarnya tradisi Ngedeblag  adalah untuk membersihkan bhuana agung (alam semesta) dan bhuana alit (diri manusia) agar desa Kemenuh terhindar dari segala bencana.

7. Tradisi Meketekan
Jika secara nasional ada yang namanya sensus penduduk, di mana semua penduduk didata secara riil sesuai data di lapangan, di desa ini pencatatan dilakukan menggunakan sebuah tradisi yang disebut Meketekan.

Meketekan adalah salah satu proses pencatatan warga secara niskala yang dilakukan di Desa Pakraman Patas, Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Gianyar.

Tradisi ini khusus dilakukan di Pura Dalem desa setempat.

Tradisi Meketekan secara umum memang hampir sama dengan proses pendataan penduduk yang dilakukan secara nasional.

Namun bedanya, Meketekan yang merupakan pencatatan penduduk secara niskala ini telah berlangsung secara turun-temurun jauh sebelum adanya sensus.

Dalam pelaksanaannya juga dilakukan dengan sarana bebantenan, serta dilakukan khusus di Pura Dalem Desa Pakraman Patas.

8. Tradisi Maedeng

Baca: Perayaan Galungan Dinilai Mencolok dan Konsumtif, Peradah Bali Gelar Tradisi Ngejot untuk KK Miskin

Krama di Desa Pekraman Susut, Desa Buahan, Payangan memiliki tradisi unik menyambut upacara Tawur Kesanga.

Tradisi yang rutin digelar dua minggu sebelum hari raya Nyepi ini disebut “Maedeng” yakni memilih sepasang godel (anak sapi) jantan dan betina untuk dipersembahkan di Catus Pata dan Pura Dalem desa setempat.

Tradisi ini pun diikuti krama dengan membawa ratusan ekor godel di areal Setra Desa Pekraman Susut.

Tradisi “maedeng” ini sudah merupakan warisan secara turun-temurun dan wajib dilaksanakan.

Bahkan, persembahan sepasang godel untuk sesajen ‘tawur kesanga’ ini diyakini sebagai sebuah kewajiban desa.

Sesuai dengan cerita leluhur, pada masa lampau, desa setempat sempat diserang wabah penyakit mematikan serta paceklik berkepanjangan hingga akhirnya tradisi ini dilaksanakan.

9. Tradisi Siat Sampian

Ritual Siat Sampian di Pura Samuan Tiga, Gianyar, Rabu (6/5/2015)
Ritual Siat Sampian di Pura Samuan Tiga, Gianyar, Rabu (6/5/2015) (Tribun Bali/Rizal Fanany)

Tradisi Siat Sampian yakni perang-perangan menggunakan janur atau disebut Siat Sampian di areal Pura Samuan Tiga, Gianyar.

Tradisi yang selalu digelar‎ tiga hari setelah puncak karya pujawali Pura Samuan Tiga ini sebagai simbol memerangi kejahatan atau adharma.

Tradisi ini melibatkan umat laki-laki yang disebut Parekan, dan umat perempuan yang disebut Permas.

Prosesi Siat Sampian diawali dengan Nampyog, yakni para Permas sebanyak 60 orang berjalan mengililingi halaman madya mandala pura sambil menari sederhana atau disebut Tari Sutri.

Nampyog dilakukan selama tiga kali, dan gerakannya selalu berubah.

Selama berkeliling, pinggang Permas diikatkan selembar selendang putih secara sambung-menyambung oleh para Permas di barisan berikutnya atau disebut proses Ngober.

Usai prosesi ngober, umat laki-laki melakukan maombak-ombakan, yakni para parekan saling berpegangan satu sama lain mengelilingi halaman pura.

Parekan yang saling berpegangan ini berputar selama tiga kali disertai dengan teriakan-teriakan seperti orang kesurupan.

Baca: Melestarikan Tradisi Bali Megibung Dalam Balutan Nuansa Modern di Hotel Santika Seminyak

Mereka pun berusaha agar dapat memegangi bangunan suci yang ada di pura.

Prosesi ini disertai dengan tetabuhan yang menambah semangat parekan dan permas untuk memulai Siat Sampian.

Puncaknya, para parekan saling lempar sampian yang sudah disiapkan.

Mereka kemudian saling pukul serta melempar sebagai simbol dari perang dengan menggunakan janur selama kurang lebih 15 menit.

10. Tradisi Mesabatan Api
Tradisi Mesabatan Api atau perang api dilakukan dengan menggunakan serabut kelapa. 

Tradisi ini telah berlangsung lama di Desa Adat Nagi, Kabupaten Gianyar.

Tradisi tahunan itu sudah diwariskan oleh nenek moyang warga Desa Adat Nagi yang digelar sehari sebelum Hari Raya Nyepi untuk menciptakan keharmonisan, menyucikan alam  sekaligus memupuk persaudaraan.

Tradisi tahunan ini menampilkan atraksi saling menyerang antarpemuda menggunakan serabut kelapa yang berisi api. (*)

Penulis: I Wayan Sui Suadnyana
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved