WIKI BALI
TRIBUN WIKI - 10 Tradisi Unik yang Ada di Kabupaten Gianyar Bali
Salah satu kabupaten di Bali yang memiliki budaya atau tradisi yang unik itu ialah Gianyar. Lalu apa saja tradisi unik yang ada di kabupaten itu?
Penulis: I Wayan Sui Suadnyana | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Setiap peserta yang ikut, dirias agar wajahnya terlihat seram dan menakutkan dengan warna-warna yang dipilih sendiri oleh peserta.
Adapun riasan seram tersebut untuk mewakili wujud wong samar (makhluk halus) yang sering mengganggu anak-anak.
Baca: Mengungkap Sejarah Tradisi Mekotek dan Kekutan Kayu Pulet Bisa Digunakan Hingga 10 Tahun
Digelarnya tradisi Ngerebeg ini bertujuan untuk memberikan tempat dan persembahan kepada wong samar agar bisa hidup berdampingan dengan manusia dan tidak saling mengganggu.
Tradisi inipun digelar secara rutin oleh tujuh banjar di desa Pakraman Tegalalang, dalam rangkaian pujawali yang digelar di Pura Duur Bingin.
3. Tradisi Mepantigan
Tradisi ini adalah sebuah aksi bela diri tradisional.
Mepantigan berarti membanting, sehingga dalam tradisi ini diperlukan kelihaian untuk bisa membanting lawan.
Permainan bela diri tradisional ini bisa dilakukan di mana saja, yang penting arealnya berlumpur, sehingga tidak membahayakan untuk lawan yang dibanting tetapi lawan akan penuh balutan lumpur.
Peserta bertanding satu lawan satu dengan cara membanting lawan, kemudian bergulat dan mengunci lawan, tidak hanya sekadar keberanian, memang diperlukan teknik agar bisa membanting lawan di lumpur, sehingga terlihat layaknya gulat lumpur.
Sekarang tradisi Mepantigan masih bisa ditemukan di Pondok Mepantigan Bali, lokasinya di Banjar Tubuh, Batubulan, Gianyar.
4. Tradisi Mepeed
Desa Sukawati Gianyar memiliki tradisi Mepeed sebagai sebuah budaya dan kearifan lokal yang masih dipertahankan sampai saat ini dan menjadi atraksi yang menarik juga untuk disaksikan.
Mepeed adalah berbaris beriringan sampai ratusan meter dengan pakaian khas adat Bali, biasanya mereka adalah kaum ibu yang mengusung banten gebogan yaitu rangkaian buah, jajanan, janur sebagai sarana upacara keagamaan yang disusun bertingkat.
Baca: Galungan di Tenganan Pegringsingan; Tak Ada Penjor dan Bau Dupa, Pertahakan Tradisi Leluhur
Tetapi Mepeed di Sukawati diikuti oleh semua kalangan, laki-laki ataupun perempuan dari anak-anak sampai lansia menggunakan pakaian adat Payas Agung dengan pakem Sukawati yang masih dipertahankan sampai sekarang.
5. Tradisi Siat Yeh
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/mepeed_20161105_160148.jpg)