Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Kala Empas, Kala Sor, dan Kala Metampak Hadir di Senin Wuku Medangsia, Lihat Ala Ayuning Dewasanya

Hari ini, Soma Wuku Medangsia (Senin, 14/1/2019) terdapat Kala Empas, Kala Sor, dan Kala Metampak

Tayang:
Penulis: I Wayan Sui Suadnyana | Editor: Irma Budiarti

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Wayan Sui Suadnyana

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dalam susunan kalender Bali dikenal istilah ala ayuning dewasa yang berarti baik-buruknya suatu hari dalam melakukan aktivitas atau kegiatan tertentu.

Dewasa atau padewasan yang biasa disebut ilmu wariga ini, seperti yang dijelaskan dalam buku Ala Ayuning Dewasa Ketut Bangbang Gede Rawi yang ditulis oleh Ida Bagus Putra Manik Ariana dan Ida Bagus Budayoga, adalah cara untuk mengidentifikasi hari yang baik dan hari yang jelek (buruk).

"Jelasnya (padewasan itu adalah) pengetahuan untuk menentukan hari baik dan hari jelek," tulisnya.

Dalam buku yang ditulis Ida Bagus Putra Manik Ariana dan Ida Bagus Budayoga tersebut, bahwa pada sistem ala ayuning dewasa ini juga dikenal istilah pangkakalan, yakni munculnya kala-kala tertentu yang dijadikan pembanding untuk menentukan baik-buruknya dewasa.

Karena seringkali terjadi ketika padewasan berdasakan wuku, wewaran, penanggal-panglong dan sasih sudah baik, namun pada sistem pangkakalannya jelek.

Pada Soma Wuku Medangsia (Senin, 14/1/2019) seperti tertulis dalam kalender yang disusun oleh Alm. I Ketut Bangbang Gede Rawi dan putra-putranya bahwa terdapat Kala Empas, Kala Sor, dan Kala Metampak.

Kembali dalam buku Ala Ayuning Dewasa Ketut Bambang Gede Rawi yang ditulis oleh Ida Bagus Putra Manik Ariana dan Ida Bagus Budayoga menjelaskan kehadiran kala tersebut.

1. Kala Empas

Kala Empas terbagi menjadi dua yakni Kala Empas Munggah (naik) dan Kala Empas Turun.

Keduanya pun menyebabkan padewasan yang berbeda.

Pada saat Kala Empas naik dipercaya sebagai hari yang baik untuk memasang pondasi (nasarin) rumah dan bangunan suci, serta membuat lumbung padi, namun buruk untuk memetik buah kelapa.

Sementara untuk Kala Empas turun, hari yang baik untuk menanam tanaman berumbi (pala bungkah), namun tidak baik untuk membangun segala jenis bangunan.

Lalu bagaimana caranya untuk menentukan Kala Empas naik atau turun?

Dalam buku Ala Ayuning Dewasa Ketut Bambang Gede Rawi dijelaskan dengan lengkap ketentuan bahwa jika Sad Wara-nya Urukung dan Panca Wara-nya Wage maka Kala Empas naik, sedangkan apabila Maulu (Sad Wara) dan Wage (Panca Wara) maka Kala Empas turun.

Kala Empas naik ini muncul pada Redite Wuku Wayang, Soma Wuku Medangsia, Anggara Wuku Sinta, Budha Wuku Merakih, Wrespasti Wuku Tolu, Sukra Wuku Uye dan Saniscara Wuku Julungwangi.

Sebaliknya, Kala Empas turun muncul pada Redite Wuku Kuningan, Soma Wuku Dukut, Anggara Wuku Pahang, Budha Wuku Ukir, Wrespasti Wuku Medangkungan, Sukra Wuku Wariga dan Saniscara Wuku Perangbakat.

Karena hari ini Soma Wuku Medangsia maka Kala Empas-nya naik.

2. Kala Sor

Sedangkan Kala Sor ditandai sebagai dewasa yang tidak baik untuk melakukan kerja di tanah.

Sebagai contoh, pekerjaan tersebut seperti membuat pondasi rumah, membajak sawah, menanam tanaman dan sebagainya.

Kemunculan Kala Sor ini seperti pada Redite Wuku Ukir, Julungwangi, Pujut, Matal dan Wayang; Soma Wuku Sinta, Landep, Warigadean, Gumbreg, Dungulan, Medangsya, Pahang, Medangkungan, Matal dan Ugu.

Sementara itu, juga hadir pada Anggara Wuku Wariga, Sinta, Kulantir, Julungwagi, Langkir, Medangsya, Prangbakat, Bala dan Dukut; Budha Wuku Ukir, Watugunung, Gumbreg, Warigadean, Kuningan, Langkir, Merakih, Menahil, Prangbakat dan Kelawu.

Kala Sor juga nampak pada Wrespati Wuku Tolu, Dungulan, Kerulut, Menahil dan Dukut; Sukra Wuku Sungsang, Warigadean, Ukir, Kulantir, Langkir, Pahang, Merakih, Uye, Menahil dan Kelawu; dan juga Saniscara Wuku Julungwangi, Ukir, Pujut, Matal, serta Wayang.

3. Kala Metampak

Sedangkan Kala Metampak seperti dikutip dari kalenderbali.org dimaknai sebagai hari yang baik untuk menanam segala sesuatu (bercocok tanam) dan kehadirannya Budha Wuku Ukir, Sukra Wuku Ukir, Wrespati Wuku Kulawu, Saniscara Wuku Wariga dan Prangbakat.

Tidak dijelaskan bahwa kehadiran Kala Metampak pada Soma Wuku Medangsia.

Cakupan mengenai ala ayuning dewasa ini sangatlah luas dengan menyentuh berbagai aspek kehidupan manusia melalui perhitungan parameter tertentu.

Perhitungan yang dimaksud berupa pawintangan yang ditetapkan berdasarkan letak bintang dalam mengelilingi matahari; sasih yang berhubungan dengan penentuan musim berdasarkan peredaran gerak semu matahari dan juga bulan yang mengelilingi bumi; dan wuku tentang ilmu ruas-ruas kumpulan binatang tertentu yang berporos di bumi.

Selain itu juga berpedoman pada wawaran yakni tentang nama-nama hari dan dedaunan yang dipakai sebagai ilmu pembagian waktu dalam satu hari.

Menurut Ida Pandita Empu Yogiswara di Griya Manik Uma Jati, dalam ala ayuning dewasa ini memang tidak terlepas dari adanya wariga-wariga seperti wuku, ingkel dan di dalamnya terdapat larangan-larangan.

Ida Pandita pun menjelaskan bahwa ala ayuning dewasa ini juga tidak terlepas dari adanya ala ayuning dina (hari), ala ayuning sasih (bulan) dan ada ala ayuning nyet (pikiran).

Jadinya, meski ada larangan-larangan namun jika pelaksana kegiatan memiliki pemikiran yang positif maka hal tersebut boleh dilakukan.

"Sekarang ada ala ayuning nyet. Nyet itu pikiran. Kalau kita memang pikiran itu hening dan tidak akan kena apapun yang namanya musibah itu, itu boleh karena kita yakin," jelasnya.(*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved