Iklan Obat Tradisional Paling Banyak Melanggar Aturan, Begini Penjelasan BBPOM Denpasar

Banyak temuan iklan obat dan makanan yang jauh dari kata layak, bahkan beberapa diantaranya sangat menyesatkan

Iklan Obat Tradisional Paling Banyak Melanggar Aturan, Begini Penjelasan BBPOM Denpasar
Tribun Bali/I Wayan Sui Suadnyana
Kepala BBPOM Denpasar, I Gusti Ayu Aryapatni saat ditemui media usai melakukan sosialisasi dalam rangka perkuatan pengawasan dan tindak lanjut pengawasan iklan di Aula BBPOM Denpasar, Rabu (6/2/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Wayan Sui Suadnyana

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Denpasar selama kurun waktu tiga tahun terakhir terus mengawasi peredaran iklan obat dan makanan di Provinsi Bali.

Hasilnya, banyak temuan iklan obat dan makanan yang jauh dari kata layak, bahkan beberapa diantaranya sangat menyesatkan.

Akibatnya, banyak masyarakat yang mengonsumsi obat dan makanan tersebut karena 'termakan' iklan tanpa tahu khasiat yang sebenarnya.

Baca: Fans Fanatik Nilai Bali United Bisa Juara Musim 2019 dengan Materi Pemain Saat Ini

Baca: Polisi Gerebek Rumah Selebgram Reva Alexa di Jalan Danau Belinda, Ada Seorang Pria dan Barang ini

Kepala BBPOM Denpasar, I Gusti Ayu Aryapatni mengatakan, dari lima produk iklan yang tidak layak, iklan obat tradisional paling banyak persentase pelanggarannya.

Hal itu Aryapatni paparkan saat melakukan sosialisasi dalam rangka perkuatan pengawasan dan tindak lanjut pengawasan iklan di Aula BBPOM Denpasar, Rabu (6/2/2019).

Pada tahun 2016, iklan obat tradisional yang tidak memenuhi ketentuan ada sebanyak 52,6 persen, rokok 51,6 persen, pangan 47,8 persen, kosmetik 36,6 persen, dan suplemen kesehatan 28,1 persen.

Baca: Jabatan Disesuaikan dengan Pendidikan dan Pengalaman, Gubernur Lantik 373 Pejabat Baru Pemprov Bali

Baca: Putri Bupati Gianyar Sabet Juara Putri Remaja Bali, Penghargaan Pertama Gek Diah di Bidang Modeling

Setahun kemudian, pelanggaran iklan obat tradisional meningkat menjadi 85,9 persen, lalu disusul oleh suplemen kesehatan 61,1 persen, rokok 53,2 persen, pangan 42,7 persen, dan kosmetik 28,6 persen.

Sementara data tahun 2018 yang dipaparkan oleh Aryapati, iklan obat tradisional mencapai pelanggaran iklan 76 persen dan menempati urutan pertama.

Urutan selanjutnya dimiliki iklan suplemen kesehatan (64,4 persen), rokok (43,9 persen), kosmetik (24,8 persen) dan pangan (31,6 persen).

Baca: Tante Vanessa Angel Ceritakan Apa Yang Dirasakan Vanessa Angel Sebelum Dijebloskan Ke Penjara

Baca: Ingin Berkunjung ke Museum Lukisan Sidik Jari? Ini Informasi Jam Bukanya

Aryapatni menilai obat tradisional paling tinggi persentase pelanggarannya karena sering mengiklankan produk secara berlebihan.

"Sebenarnya obat tradisional itu kan membantu menyehatkan. Hanya membantu bukan menyembuhkan. Kan sering (iklannya) obat tradisional menyembuhkan segala macam penyakit tanpa data ilmiah. Kalau itu diiklankan terus, itu namanya menyesatkan masyarakat," jelasnya.

Selain secara berlebihan, iklan obat tradisional ini juga sering tidak dilengkapi dengan nomor izin edar (NIE), berisi testimoni, berhadiah, berisi mencegah atau mengobati TBC, kanker, diapet dan lain-lain.

Disamping itu, juga berisi klaim aman, tanpa efek samping, tanpa bahan kimia, menggunakan kata seperti anti, bebas, solusi prima, serta tidak ada nama produsen dan tidak mencatumkan spot baca aturan pakai. (*)

Penulis: I Wayan Sui Suadnyana
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved