Saat Pembukaan Bulan Bahasa Bali, Rai Mantra Menyinggung Perayaan Hari Raya Nyepi
Musuh tidak jauh dari diri sendiri,Kata Walikota Denpasar, IB Rai D. Mantra. Dalam kesempatan itu, ia pun menyinggung tentang perayaan Nyepi
Penulis: Putu Supartika | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Musuh tidak jauh dari diri sendiri.
Musuh paling besar ada dalam diri sendiri.
Jangan suka menyalahkan orang lain.
Kata Walikota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya Mantra, Selasa (12/2/2019) saat pembukaan Bulan Bahasa Bali Kota Denpasar.
Dalam kesempatan itu, ia pun menyinggung tentang perayaan Hari Raya Nyepi. Saat itu, ia mengajak semua masyarakat untuk bergembira saat Hari Suci Nyepi yang akan datang.
"Kita harus bergembira karena Nyepi merupakan hari suci. Juga mulat sarira, menyucikan diri karena di sana ada Brata Penyepian, mengendalikan diri yang sebaik-baiknya," katanya.
Sementara itu, berdasarkan kesepakatan bersama yang dilaksanakan MMDP Kota Denpasar bersama Sabha Upadesa dalam pengarakan ogoh-ogoh saat Nyepi dilarang menggunakan sound system.
Kadis Kebudayaan Kota Denpasar, IGN Bagus Mataram mengatakan pemberian kelonggaran penggunaan sound system saat pengerupukan sudah pernah dilaksanakan.
Dimana setiap sekaa ogoh-ogoh diharapkan dapat menghidupkan musik baleganjur dan gambelan, namun setelah tak ada petugas dan malam semakin larut, lagunya justru berganti menjadi house music.
"Dulu memang pernah seperti itu, dan sebagai evaluasi kami sepakati untuk melarang penggunaan sound system di Kota Denpasar," katanya.
Pihaknya juga menekankan bahwa pengunaan sound system selain tidak tepat secara sastra dan keliru dari sisi logika, juga mengaburkan kebudayaan Bali.
Baca: Pembukaan Bulan Bahasa Bali, Rai Mantra: Jangan Berbicara Melestarikan Saja
Baca: Internet Tetap Padam saat Nyepi, Majelis Lintas Agama Tandatangani Seruan Bersama
Baca: Agar Tidak Ganggu Jalur Melasti dan Nyepi, PHDI Imbau Tertibkan Alat Peraga Kampanye
Dimana dengan adanya suara sound yang begitu keras justru membuat suara baleganjur tidak terdengar.
"Semoga semua masyarakat dapat mendukung dan memahami, bagaimana pengerupukan itu wajib dimaknai sebagai hari suci yang sakral dengan menggunakan alat-alat yang sesuai dengan tattwa agama," kata Mataram.
Sementara Ketua Majelis Utama Desa Pakraman (MUDP), Jro Gede Suwena Putus Upadesa mengatakan pihaknya memberikan kewenangan terhadap stake holder terkait di Kota Denpasar dalam memutuskan pelarangan penggunaan sound system tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/rai-mantra-mawirama.jpg)