Daftar 16 Hp dengan Radiasi Terendah Hingga Tertinggi di 2019, Samsung Galaxy Note 8 Paling Rendah

Besar radiasi yang dikeluarkan sebuah smartphone diukur dengan unit yang dikenal sebagai Angka Absorpsi Spesifik atau SAR.

Daftar 16 Hp dengan Radiasi Terendah Hingga Tertinggi di 2019, Samsung Galaxy Note 8 Paling Rendah
jammulinksnews.com
Ilustrasi 

8. Google Pixel 3: Head: 1.34 W/kg, Body: 1.34 W/kg, ST: 1.59 W/kg

9. LG V40: Head: 1.27 W/kg, Body: 1.28 W/kg, ST: 1.59 W/kg

10. LG G7: Head: 0.22 W/kg, Body: 1.06 W/kg, ST: 1.59 W/kg

11. OnePlus 6T: Head: 1.34 W/kg, Body: 1.19 W/kg, ST: 1.59 W/kg

12. OnePlus 6: Head: 1.26 W/kg, Body: 0.90 W/kg, ST: 1.53 W/kg

13. Xiaomi Pocophone F1: Head: 0.72 W/kg, Body: 0.75 W/kg, ST: Tidak dijelaskan.

14. Sony Xperia XZ3: Head: 0.14 W/kg, Body: 0.44 W/kg, ST: 1.08 W/kg

Meski daftar di atas tidak disusun secara berurutan, dari angka SAR yang didapat terlihat bahwa Sony Xperia XZ3 menjadi ponsel yang paling aman untuk digunakan, dengan angka SAR paling rendah.

Mayoritas ponsel di atas masih sesuai dengan aturan yang berlaku karena berada di bawah batas maksimum.

Meskipun begitu, sangat dianjurkan untuk memilih ponsel dengan angka SAR yang rendah untuk meminimalisasi risiko radiasi pada tubuh.

Radiasi Hp Terbukti Memicu Kanker pada Tikus

Penelitian menunjukkan kalau radiasi ponsel mampu memicu kanker pada tikus, lantas bagaimana dampaknya pada manusia?

Sebuah penelitian dari Amerika Serikat menunjukkan tingkat paparan tinggi dari radiasi gelombang radio, yang dipancarkan ponsel, terkait erat dengan munculnya kanker hati pada tikus jantan.

Beberapa penelitian lain membuktikan adanya kaitan antara radiasi ponsel dengan tumor otak dan kelenjar adrenal yang juga ditemukan pada tikus jantan.

Namun pada tikus betina dan mencit jantan, tanda-tanda kanker tidak terdeteksi dengan jelas.

Hal ini disimpulkan oleh para peneliti dari National Toxicology Programme (NTP) dalam laporannya, Kamis (01/11/2018).

Program ini dilakukan oleh Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS.

Tujuan utamanya, meninjau toksisitas radiasi ponsel sebagai benda yang sangat mudah ditemui di kehidupan modern.

Paparan radiasi yang digunakan dalam percobaan ini memang melebihi tingkat yang selama ini dialami manusia.

Meski begitu, temuan ini menunjukkan bukti tak terbantahkan hubungan antara radiasi ponsel dengan kanker.

"Paparan dalam studi tidak dapar dibandingkan langsung dengan yang dialami manusia saat menggunakan ponsel," ungkap Dr John Bucher, ilmuwan senior NTP dikutip dari The Independent, Jumat (02/11/2018).

"Dalam penelitian kami, tikus dan mencit menerima radiasi frekuensi radio di seluruh tubuh mereka. Sebaliknya, sebagian besar manusia terpapar di jaringan lokal tertentu, bagian tubuh terdekat mereka memegang telepon," imbuhnya.

Meski begitu, dia menambahkan bahwa mereka percaya hubungan antara radiasi ponsel dengan tumor pada tikus jantan adalah hal yang nyata.

Bucher juga menegaskan peneliti lain yang tak terlibat juga setuju dengan temuan mereka

Eksperimen ini membutuhkan waktu selama beberapa dekade.

Selama itu, jaringan hewan disisir untuk mencari tanda-tanda tumor yang dialami tikus setelah diberikan radiasi ponsel selama 9 jam sehari dalam dua tahun.

Hasilnya, mereka menemukan pada tikus jantan yang terpapar radiasi ponsel mengalami insiden tumor jantung yang lebih tinggi dibanding tikus yang tak terpapar.

Namun, pada tikus betina, bukti setiap kanker yang terbentuk digambarkan masih "samar-samar".

Artinya, memang ada peningkatan dalam molekul yang berkaitan dengan kanker tapi tidak ada bukti nyata terbentuknya kanker.

Jika paparan radiasi ponsel telah terbukti terkait erat dengan tumor pada tikus jantan, lalu bagaimana efeknya pada manusia?

Perlu diketahui, penelitian ini hanya menggunakan sinyal nirkabel 2G dan 3G, jenis yang banyak digunakan saat penelitian ini dimulai pada sekitar 1990-an.

Namun, pada perkembangannya, ponsel saat ini telah menggunakan teknologi WIFI dan 4G, bahkan mungkin 5G pada 2020 mendatang.

Dilansir dari New York Times, Jumat (02/11/2018), frekuensi gelombang 4G dan 5G jauh lebih tinggi.

Meski demikian, para ilmuwan menyebut bahwa gelombang radio ini belum mampu menembus tubuh manusia dan tikus.

Untuk menghindari kritik akibat teknologi yang sudah usang, para peneliti berencana melakukan penelitian dengan teknologi yang lebih baru.

Pada penelitian baru itu, ilmuwan akan fokus pada tanda-tanda fisik yang terukur seperti penanda biologi hingga kerusakan DNA.

Disamping itu, Lembaga Kanker Amerika juga memandang bahwa tidak perlu ada kekhawatiran mengenai penelitian ini.

"Kasus tumor otak pada manusia tidak meningkat selama 40 tahun terakhir," ujar Otis Brawley, kepala petugas medis Lembaga Kanker Amerika dikutip dari USA Today, Jumat (02/11/2018).

"Itu adalah fakta ilmiah paling penting," tegasnya. (*)


Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved