Dharma Wacana
Pecalang Saat Nyepi
Secara umum, banyak umat Hindu yang menilai esensi dari Hari Suci Nyepi adalah Catur Brata.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Ady Sucipto
Oleh Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda
TRIBUN-BALI.COM, - Secara umum, banyak umat Hindu yang menilai esensi dari Hari Suci Nyepi adalah Catur Brata.
Yakni Amati Gni (tak menyalakan api), Amati Karya (tak bekerja), Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang ataupun makan) dan Amati Lelungan (tidak bepergiatan).
Jika demikian adanya, lalu bagaimana dengan para pecalang yang mengawal prosesi Nyepi.
Sebab jika Catur Brata patokannya, tentu para pecalang ini dikategorikan melanggar.
Berbicara Hari Suci Nyepi, pengejawantahannya itu seharusnya lebih pada proses introspeksi diri.
Sebab agama Hindu itu tidak sama dengan agama lain, yang ada kata wajib atau tidak wajib.
Kalau agama lain, jika dia melanggar maka dikatakan dosa. Sementara jika dilakukan dia akan mendapatkan pahala.
Agama kita tidak demikian, karena pola agama kita bersifat ajaran. Jadi, yang menjadi dasar penting di dalam agama Hindu adalah proses yang disebut transformasi diri.
Saat ini pola beragama kita masih pada tahap penertiban lahiriah.
Seperti halnya Nyepi, umat disarankan agar tidak boleh keluar rumah, tidak melakukan ini dan melakukan itu. Namun prinsip utamanya belum dipahami.
Nyepi itu artinya sunya, niskala atau windu. Dalam bahasa zaman now, windu itu diartikan sebagai kosong (kesadaran yang hilang).
Mampu gak kita masuk ke wilayah itu? Membangun kembali sifat kedewataan yang hilang? Inilah sebenarnya inti atau saripati daripada Nyepi.
Dalam persembahyangan, ada mantra ‘Om Atma Tattvatma Suddhamam Svaha’, kan kita sembah ‘punyung’. Ketika kita berbicara puyung, itulah sesungguhnya niskala.
Nah dalam hari suci Nyepi ini, kita diajak kembali untuk menindaklajuti kosong atau bolong pada diri kita.