Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Dharma Wacana

Pecalang Saat Nyepi

Secara umum, banyak umat Hindu yang menilai esensi dari Hari Suci Nyepi adalah Catur Brata.

Tayang:
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Ady Sucipto

Dalam hal ini, bolong ada dua, yakni bolong berisi dan bolong yang tak pernah terpuaskan.

Bolong yang tak ternah terpuaskan ini adalah indrawi kita, yakni api nafsu.

Saat Nyepi, kita diajak untuk memadamkan api nafsu yang ada di dalam diri kita. Jadi yang dipadamkan bukan hanya api yang ada di dapur, lampu dan sebagainya.

Sementara sindu atau bolong yang harus dipuaskan adalah windu gni. Sementara windu yang harus kita cari adalah wandu amertha.

Apa itu, yakni bolong yang tidak kelihatan tetapi sesungguhnya bolong, seperti Ajna Cakra (mata ketiga atau mata pengetahuan masa depan) dan Siwadwara (alam Siwa).

Inilah yang harus kita aktifkan, tidak hanya saat Nyepi tetapi setiap hari. Tapi saat Nyepi lebih bagus, karena tingkat konsentrasi kita akan sangat sakral.

Jadi, walaupun saat Nyepi kita tidak ke mana-mana, tetapi kita tidak ada renungan ke arah sunya, berarti kita hanya merayakan Nyepi secara seremonial saja.

Kalau pecalang, jika dalam menjalankan tugasnya, pikirannya tertuju pada windu ini, atau mencari jalan sunya atau kelepasan, tentu dia mendapatkan kredit poin untuk meningkatkan status dirinya di tingkat spiritual.

Pesan saya, marilah kita lalui proses Nyepi tidak hanya sebatas Catur Brata, tetapi juga meningkatkannya ke arah filosofi, yakni kembali ke jati diri kita.

Siapa kita, kita adalah atman.

Di Hari Suci Nyepi, kita harus membangkitkan kembali sifat dan pengetahuan tentang kedewataan, yang akan kita pakai dalam mengarungi kehidupan di tahun berikutnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved