BPR Lestari Tawarkan Tabungan Bunga 7 Persen, Tabungan Jumbo jadi Awal Menuju Bank Transaksional
“BPR Lestari mau bertransformasi dari sekadar ‘bank deposito’ menjadi bank transaksional. Yakni dengan elektronik banking seperti Lestari Mobile..."
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Irma Budiarti
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - BPR Lestari kini mengarah menuju bank transaksional, yang disebut Lestari 2.0.
Chairman Lestari Group, Alex P. Chandra, mengatakan transformasi besar dari Lestari 1.0 ini, menuju ke arah digitalisasi dan bank transaksional.
“BPR Lestari mau bertransformasi dari sekadar ‘bank deposito’ menjadi bank transaksional. Yakni dengan elektronik banking seperti Lestari Mobile atau L-Mobile, yang merupakan salah satu di antara beberapa inisiatif digital kami,” katanya kepada Tribun Bali, Kamis (21/3/2019).
Mengingat selama 20 tahun berdiri, core bisnis BPR Lestari masih berkutat pada deposito.
Salah satu produk yang mewakili mimpi ini, adalah Tabungan Jumbo.
“Tabungan ini dinamakan Jumbo, karena bunganya memang Jumbo dibandingkan produk tabungan pada umumnya. Jadi nasabah tabungan ini selain menikmati bunga Jumbo, juga bisa melakukan transaksi secara mobile,” jelasnya.
Baca: Tes Kepribadian - Hitung Penjumlahan Tanggal Lahirmu Berikut Ini, Karaktermu Akan Terungkap
Baca: Kabar Terkini Mantan Gelandang Bali United, Nick van der Velden Tangani Klub di Liga Belanda Ini
Lanjut, pria yang akrab disapa Alex ini, salah satu transaksi mobile yang bisa dilakukan adalah cek saldo dan aktivitas transaksi lainnya.
“Serta melakukan pembayaran kepada pihak lain, dengan cara pemindahbukuan,” imbuhnya.
Alex mengatakan, bunga Tabungan Jumbo jauh lebih besar dibandingkan tabungan biasa.
“Tabungan itu kan rata-rata bunganya 1 persenan, bahkan kurang. Nah kalau Tabungan Jumbo, bunganya antara 3-7 persen tiering,” jelasnya.
Sehingga diharapkan mampu menarik minat nasabah.
Apalagi harapannya dalam 5 tahun ke depan, prosentase tabungan dari dana pihak ketiga (DPK) bisa 30 persen untuk mencapai bank transaksional 2.0.
“Kalau sekarang kan prosentase tabungan saya cuma 12 persen dari DPK, tahun ini harapannya 15 persen, dan tahun berikutnya 20 persen lah,” katanya.
Alex memaparkan ilustrasi Tabungan Jumbo ini.
Baca: Dari Overstay hingga Dugaan Terlibat Prostitusi di Kuta, Imigrasi Kelas 1 Ngurah Rai Deportasi 9 WNA
Baca: Hati-Hati, Alami Depresi di Usia 20-an Bisa Pengaruhi Ingatanmu di Usia 50-an
“Semisal seorang pedagang yang menjadi nasabah memiliki Tabungan Jumbo Rp 5 miliar, maka selisih bunganya sekitar Rp 300 juta sendiri setahun, atau Rp 25 juta sebulan sebelum pajak. Ini kan lumayan, kemudian fasilitasnya disamakan yaitu transfer kemana saja, bisa pemindahbukuan, dan via mobile phone,” katanya.
Hal ini, layaknya fasilitas yang diberikan bank umum.
“Tapi di kami, tanpa biaya administrasi dan berhadiah, terus bebas biaya transfer kemana saja,” tegasnya.
Bahkan, Tabungan Jumbo ini, bisa dimulai dengan nominal Rp 1 juta serta bisa setor-tarik setiap saat.
Sehingga rekening Tabungan Jumbo inilah, diharapkan menjadi salah satu produk transaksional.
“Misalkan nasabah pemegang rekening Tabungan Jumbo, mau membayar temannya bisa menggunakan Lestari Mobile untuk pemindahbukuannya,” tegas Alex.
Selain itu, membayar supplier yang juga nasabah BPR Lestari pun bisa, melalui pemindahbukuan ini.
“Nah itu, sarananya menggunakan elektronik banking, di antaranya Lestari Mobile,” imbuhnya.
Baca: LINK STREAMING RCTI, Timnas U23 vs Thailand U23, Ezra Walian Batal Tampil Bersama Garuda Muda
Baca: Miliki Tugas Berat Pecalang Diusulkan Mendapat Gaji Via Ranperda Desa Adat
Pihaknya pun, akan terus menambah fasilitas transaksional lain, melalui platform ini sehingga nantinya L-Mobile mampu memberikan kemudahan lebih bagi nasabah atau penggunanya.
Gebrakan ini dilakukan, karena BPR Lestari ingin menjadi bank transaksional ke depannya.
Mengingat selama ini, BPR dengan aset hingga Rp 5,2 triliun (Maret 2019) ini, masih fokus di deposito.
Hal tersebut menyebabkan, cost of fund atau biaya yang dikeluarkan bank untuk dana yang dihimpun menjadi mahal.
Hal ini berimbas ke kredit yang akhirnya juga mahal atau bunganya tinggi.
“Makanya NPL BPR lebih tinggi dari bank umum. Karena kreditnya mahal, jadi kami memberikan kredit pada segmen yang lebih beresiko dibandingkan perbankan umum,” katanya.
Maka dari itu, pihaknya ingin mengubah haluan dan mengarah ke rekening yang transaksional.
“Tabungan atau Casa itu kan dana murah, nah ini yang kami mau hidupkan,” tegasnya.
Baca: Tumbuhkan Jiwa Sosial dan Tanamkan Pendidikan Karakter dengan Kegiatan Kids Camp
Baca: Hati-Hati, Ini 8 Ciri Wanita yang Mudah Selingkuh, Termasuk Bila Lebih Sukses dari Pasangan
Sebab dahulu tidak bisa dilakukan, tetapi kini bisa karena ada teknologi yaitu Lestari Mobile.
Teknologi ini, kata dia, bisa membantu BPR Lestari menekan cost.
Dengan cost turun, makan bunga kredit bisa turun, dan BPR bisa memanage portofolio dengan resiko lebih balance.
Ia menargetkan setidaknya DPK naik 15 persen pada 2019, menjadi Rp 4,4 triliun dan aset menjadi Rp 5,6 triliun.
“Kalau saya berhasil, saya bisa masuk ke segmen bankable, sekarang kan segmennya masih unbankable,” katanya.
Alex tidak menampik, Net Interest Margin (NIM)nya akan turun, namun hal itu terbayarkan oleh growth dan kemajuan bank ke depannya.
Target kenaikan 15 persen DPK dan kredit tahun 2019 ini pun, kata dia, termasuk target moderat.
Mengingat 3 tahun belakangan, BPR Lestari slow growth, seiring melambatnya ekonomi global dan nasional.
Baca: Pecalang Se-Bali Bakal Diberi Pengetahuan Kamtibmas untuk Bantu Cegah Kriminalitas di Desa Adat
Baca: 5 Gejala Gangguan Kesehatan Pria Yang Bisa Berakibat Fatal, Bisa Dilihat Dari Kotoran
“Growth kredit di Bali Cuma 5,7 persen, sementara kredit nasional itu 12,5 persen. Jadi Bali mengalami slow growth, padahal biasanya di Bali lebih tinggi. Sekarang cuma setengahnya nasional,” sebutnya.
Walau demikian, kredit BPR Lestari mampu tumbuh 13,67 persen.
Hal ini diakuinya sebagai keberhasilan, me-manage kredit dibanding industri perbankan lain yang ada di Bali.
“Tetapi angka itu jauh jika dibandingkan 3-4 tahun lalu, sebab BPR Lestari bisa growth hingga 25-30 persen,” katanya.
Bahkan tahun 2018 pertumbuhannya hanya 9 persen saja.
“Kami tidak bisa melepaskan eksternal, makanya target moderatnya cuma 15 persen dalam RBB,” imbuhnya.
NPL atau kredit bermasalah per Desember 2018 pun masih terjaga 1,55 persen.
“Lebih rendah dari tahun sebelumnya 1,9 persen, dan lebih rendah dari rata-rata nasional 2,5 untuk persen perbankan secara umum. (*)