Wariskan Seni Ukir Secara Turun-temurun, 60 Persen Warga Banjar Adat Jehem Bangli Jadi Perajin Ukir
60 persen warga di wilayah Banjar Adat Jehem, Desa Jehem Tembuku, justru menggantungkan hidup sebagai perajin ukir
Penulis: Muhammad Fredey Mercury | Editor: Widyartha Suryawan
TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Berbeda dengan masyarakat Bangli pada umumnya yang menggantungkan hidup dengan bercocok tanam, warga di wilayah Banjar Adat Jehem, Desa Jehem Tembuku, justru menggantungkan hidup sebagai perajin ukir.
Dari total 660 Kepala Keluarga (KK), 60 persen di antaranya berprofesi sebagai perajin ukir.
Memasuki areal kecamatan Tembuku, sejumlah lokasi perajin ukir tampak berjajar di kanan-kiri jalan.
Jenisnya beragam mulai dari ukir-ukiran merajan, rong tiga, rong satu, rangka untuk bale daja maupun bale dangin, pintu ukir dan sebagainya.
Di sebuah tempat bekerja, dua orang pria terlihat sibuk memahat kayu masing-masing. Sedikit demi sedikit, kayu jenis merbau yang telah disketsa mulai diukir menggunakan berbagai ukuran alat ukir.
Pria bernama Nengah Roni ini mengatakan, ketertarikannya dengan kerajinan ukir tumbuh sejak dia duduk di kelas III SD, yang hingga kini masih ditekuni.
Bahkan hasil dari ukiran kayu tersebut, sudah mampu untuk dibelikan motor hingga pembiayaan kuliah secara mandiri.
“Mulanya diajari paman dan kerja dirumah, menggunakan jenis kayu nangka dan cempaka. Baru enam bulan terakhir pindah ke bengkel, dan ini pertama kali mengerjakan order menggunakan kayu merbau,” ujarnya.
Lantaran kesibukannya yang harus bekerja sembari kuliah, untuk menyelesaikan sebuah ukiran diakui dia membutuhkan waktu sedikit lama dari biasanya.
Seperti ukiran tiang penyangga yang tengah digarapnya, untuk menyelesaikan satu buah ukiran memakan waktu selama lima hingga enam hari. Sebab ia hanya bekerja setengah hari.
Roni yang mulai menyukai ukiran kayu sejak anak-anak, tampaknya juga tidak pelit ilmu. Diakui sempat anak-anak SD sekitar datang ke bengkel untuk ikut belajar mengukir.
Pihaknya pun menerima mereka dan mengajarkan teknik dasar mengukir. Meski demikian, pihaknya juga tidak bisa memaksa anak-anak tersebut untuk terus menekuni seni ukir.
“Ada sekitar 10 orang anak yang belajar ukir. Tapi sudah punah satu per satu, saat pembuatan ogoh-ogoh menjelang hari raya nyepi, ditambah sekarang musim layangan. Kami paham masa anak-anak adalah masa bermain, jadi kami tidak bisa memaksakan kehendak mereka. Karena kalau dipaksa mereka justru berontak, dan tidak mau datang belajar lagi,” tuturnya.
Berbeda dengan Roni. I Komang Widiadnyana justru baru belajar mengukir sejak kelas VII, dengan berguru dari ayahnya.
Meski baru setahun menjalankan hobi barunya tersebut, diakui ia mengukir kini berangsur-angsur menjadi rutinitas yang selalu dilakukan usai pulang sekolah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/perajin-ukir-di-banjar-adat-jehem-desa-jehem-tembuku-bangli.jpg)