Gunakan Teknik Sainte Lague, PDIP Bisa Tembus 7 Kursi DPR RI
Bahkan diperkirakan PDIP bisa menghantarkan tujuh Caleg DPR RI ke Senayan, naik dari Pemilu 2014 yang hanya empat kursi.
Penulis: Ragil Armando | Editor: Eviera Paramita Sandi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Perhitungan suara hasil coblosan Pemilu 2019 masih terus dilakukan.
Namun dari hitung cepat yang dilakukan Indo Barometer, terlihat ada perubahan signifikan perolehan suara partai politik di Bali.
PDIP sebagai partai pemenang di Bali, jauh meninggalkan rival-rivalnya.
Bahkan diperkirakan PDIP bisa menghantarkan tujuh Caleg DPR RI ke Senayan, naik dari Pemilu 2014 yang hanya empat kursi.
Hasil quick count Lembaga Indo Barometer, PDIP meraih 57,56 persen, disusul Golkar (11,22 persen), Demokrat (5,09 persen), PSI (4,31 persen), NasDem (4,22 persen), Gerindra (4,18 persen), Perindo (3,17 persen), PKB (2,91 persen), Hanura (2,84 persen), Berkarya (1,65 persen), PKS (1,24 persen), PAN (0,48 persen), Garuda (0,34 persen), PBB (0,23 persen), dan PKPI (0,09 persen).
Untuk penentuan perolehan kursi Dewan, dalam Pemilu 2019 ini berbeda dengan 2014.
Jika pada Pileg 2014 memakai metode BPP (Bilangan Pembagi Pemilih), maka Pemilu kali ini akan menggunakan teknik Sainte Lague.
“Kali ini berbeda dengan waktu Pemilu 2014 lalu yang masih pakai BPP,” kata mantan Komisioner KPU Bali yang juga Tim Ahli Komite Demokrasi (KoDe) Bali, Kadek Wirati, Jumat (19/4).
Mantan Komisioner KPU RI yang juga Founder Network For Democracy And Electoral Integrity atau Netgrid, Ferry Kurnia Rizkiyansyah juga mengatakan bahwa teknik Sainte Lague secara resmi diakomodir dalam UU nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilu.
Ia menjelaskan, teknik penghitungan tersebut terdapat dalam Pasal 420.
Dimana sebelum dilakukan perhitungan tersebut, harus dilihat partai-partai yang secara nasional lolos parliamentary threshold (PT) 4 persen.
Metode ini diperkenalkan oleh Andre Sainte Lague, ahli matematika asal Perancis.
Tahap pertama, dilakukan proses penghitungan jumlah seluruh sah setiap Parpol, (suara parpol plus suara caleg).
Tahap kedua melakukan pembagian dengan bilangan ganjil, 1,3,5,7 dan seterusnya.
Kemudian tahap ketiga, hasil pembagian diurutkan dari mulai suara terbanyak. Kemudian dikonversi ke kursi sampai habis jumlah kursi di daerah pemilihan.
"Jadi kalau misalkan 9 kursi. Maka suara dari nomor sekian yang masuk PT itu dibagi dengan pembagi bilangan angka ganjil1, 3, 5, 7 dan seterusnya. Nanti dicari pembagi yang suaranya tertinggi di antara 1 sampai 9 kursi tadi," katanya.
Untuk Bali, dengan menggunakan asumsi 80 persen kehadiran pemilih sepertiyang ditargetkan KPU Bali, dari jumlah DPT 3.130.288 pemilih, maka kehadiran sebanyak 2.504.230 pemilih.
Dengan asumsi itu, maka berdasar hasil quick count Indo Barometer, maka Parpol yang mempunyai kans melenggang ke Senayan yakni PDIP sebanyak 1.441.434 suara (57,56 persen), Golkar 280.974 suara (11,22 persen), Demokrat 127.465 suara (5,09 persen), NasDem 105.678 suara (4,22 persen), dan Gerindra 104.676 suara (4,18 persen). PSI yang meraup 4,31 persen atau 107.932 suara, tidak dihitung karena secara nasional tidak lolos PT 4 persen.
Asumsi perolehan itu, jika dihitung menggunakan metode sainte league, PDIP diperkirakan akan mendapat 7 kursi, Golkar 1 kursi, dan Demokrat 1 kursi.
Menyikapi perolehan suara PDIP yang menjadi jawara di Pulau Dewata itu, Sekretaris PDIP Bali, I Gusti Ngurah Jayanegara bersyukur.
Namun ia mengaku, pihaknya memperkirakan PDIP memperoleh lima kursi di DPR RI.
Hal ini meningkat 1 kursi dibanding dengan Pemilu 2014 yang memperoleh 4 kursi dari 9 jatah kursi Dapil Bali di Senayan.
"Karena kursi ada 9, kita mendapat 56-57 persen suara kan 5 itu, itu 5-nya karena sisa suara, lebih atau apa nggak tahu," katanya.
Ia juga mengatakan bahwa pihaknya saat ini sedang melakukan penghitungan real count berbasis C1 yang dikumpulkan para saksi PDIP di seluruh TPS se-Bali.
Hasil yang masuk hingga Jumat (19/4) sore, PDIP baru memperoleh sebanyak 1.328.997 suara, disusul Golkar 354.447 suara, Gerindra 102.431 suara, NasDem 99.580 suara, Demokrat 96.130 suara.
"Yang jelas kita aman di posisi 5 kursi, yang pasti kita nggak boleh mendahului Tuhan," paparnya.
Sementara Ketua PDIP Bali, Wayan Koster yang juga Gubernur Bali, mengakui jika partainya berpotensi meloloskan tujuh Caleg DPR RI ke Senayan.
Menurut Koster, untuk Pemilu Serentak 2019, PDIP Bali sudah memastikan akan merebut 6 kursi di DPR RI.
Bahkan tidak menutup kemungkinan bisa bertambah 1 kursi, sehingga total menjadi 7 kursi.
“Sebelumnya saya menargetkan lima kursi sudah pasti tercapai, tetapi berdasarkan hitung-hitungan survei di internal PDIP sendiri dan suara yang diraih di Pemilu Serentak 2019, PDIP Bali mampu merebut enam kursi DPR RI, dan ada potensi tujuh kursi,” kata Koster saat jumpa pers di Denpasar, Kamis (18/4/2019) sore.
Perolehan ini, jelas Koster, sesuai target dari PDIP yaitu sebesar 55 persen.
“Nanti akan ada penghargaan kepada bupati yang merupakan kader PDIP, yaitu dilanjutkan jabatannya (dua periode), begitu juga untuk wakil bupati nantinya akan dinaikan jadi bupati,” tandasnya.
Tidak hanya itu, atas kerja keras elite politik dan pimpinan partai, dirinya juga berkomitmen akan memberi penghargaan khusus pada kader terbaik PDIP.
Penghargaan apa, Koster belum bisa menyebutkan. “Yang jelas, nanti pasti ada,” jawabnya.
Dikonfirmasi terpisah terkait perolehan suara di Bali, Plt Ketua Golkar Bali, Gde Sumarjaya Linggih juga mengklaim mampu mempertahankan dua kursi di Senayan.
Ia mengaku, pihaknya saat ini sedang melakukan pengumpulan C1 dari para saksi Golkar di TPS.
“Kalau dari hitungan kita, kita tetap dua kursi. Ini kita juga sedang lakukan penghitungan,” ucap dia.
Demer mengaku bahwa perolehan ini meleset dari target yang dicanangkan oleh DPP Golkar sebelumnya yakni, tiga kursi DPR RI.
Pria yang juga anggota DPR RI Dapil Bali ini menjelaskan, melesetnya target ini dikarenakan beberapa permasalahan hukum yang membelit kader Golkar, seperti penetapan tersangka mantan Ketua Golkar Bali Ketut Sudikerta dan Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK yang menimpa salah satu petinggi DPP Golkar, Bowo Sidik Pangarso (BSP).
“Ini karena beberapa permasalahan hukum yang menimpa para kader kita ya, ada yang tersangka, ada yang OTT di Jawa, ini mempengaruhi persepsi masyarkat kepada Golkar,” ucap Demer.
Sedangkan, Ketua Demokrat Bali, Made Mudarta sedang pusing terkait hasil Pileg 2019 tersebut.
Ia mengatakan, Demokrat turun menjadi dari dua kursi menjadi satu kursi di Senayan pada Pileg kali ini.
“Ini masa-masa pusing ya, semua sedang pusing. Kita turun menjadi satu kursi,” kata Mudarta.
Ia menjelaskan, penurunan kursi Demokrat ini disebabkan oleh berbagai intimidasi yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab di basis-basis Demokrat.
Selain itu, banyak basis-basis yang sebelumnya menyumbang suara bagi Demokrat digempur oleh Bansos oleh partai lawan.
“Kita kan dapat intimidasi di basis-basis kita, selain itu juga kita kalah oleh Bansos oleh lawan. Bagaimana tidak, orang kalau tidak mau milih si A nanti Bansosnya gak turun, ya jelas kita kalah,” dalihnya.
Ketua Gerindra Bali, Ida Bagus Putu Sukarta pun mengaku mampu mempertahankan satu kursi di Senayan.
Anggota DPR RI Dapil Bali ini mengatakan, target mempertahankan satu kursi telah berhasil dilakukan Gerindra.
“Kita astungakara berhasil bertahan, itu sih dari hitungan internal kita, target bisa terlampaui,” paparnya.
Sementara Ketua NasDem Bali, Ida Bagus Oka Gunastawa tidak mau berandai-andai terkait kursi di Senayan. Ia mengaku, pihaknya lebih memilih menunggu hasil penghitungan dan penetapan dari KPU.
“Ya kita nggak mau berandai-andai dulu, kita pilih tunggu hasil KPU aja,” katanya sembari tertawa, Jumat (19/4). (*)