Serangan Bom di Sri Lanka: Pemerintah Setempat Tutup Media Sosial
Banyaknya beredar informasi yang tidak akurat pasaca ledakan bom, pemerintah mengambil keputusan drastis dengan menutup media sosial.
Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Alfonsius Alfianus Nggubhu
Apakah keputusan menutup ini benar?
Sejumlah orang mengatakan bahwa keputusan ini memang tidak terhindarkan mengingat betapa tidak mampunya perusahaan teknologi ini untuk mengontrol menyebaran informasi yang tidak benar.
Persoalan tentang penyebaran informasi salah di online juga sempat diperdebatkan dalam konferensi TED di Vancouver, Kanada. Seorang pembicara mengatakan internet telah dirusak oleh berita-berita palsu.
Namun ada juga yang mencemaskan keputusan ini sebab sebelumnya Sri Lanka pernah memiliki sejarah dalam mengontrol kebebasan media. Seorang peneliti, Yudhanjaya Wijeratne, mengatakan kepada BuzzFedd bahwa ini adalah persoalan yang sangat kompleks.
Dalam sebuah pernyataannya, Facebook, mengatakan : “Orang-orang bergantung pada jasa kami untuk berkomunikasi dengan kerabat mereka dan kami berkomitmen untuk mempertahankan pelayanan ini dan membantu masyarakat dan negara dalam momen yang tragis ini.”
WhatsApp banyak dipakai di Sri Lanka. DI saat mereka saat memerlukannya untuk berkomunikasi, tiba-tiba harus ditutup. Satu keluarga yang tinggal di Inggris mengatakan kepada BBC bahwa mereka telah menghubungi keluarganya di Sri Lanka dengan telepon biasa karena sulit menghubungi mereka di media sosial.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/serangan-bom-sri-lanka.jpg)