Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Iksan Minder Pergi ke Sekolah, Kisah Remaja di Jembrana Tanpa Tangan dan Kaki

Iksan merupakan anak bungsu lima bersaudara dari pasangan Aramin (59) dan Mariatin (56) yang terlahir dengan kondisi tanpa tangan dan kaki

Tayang:
Penulis: I Made Ardhiangga Ismayana | Editor: Irma Budiarti
KRJ
SENYUM - Iksan tersenyum saat dikunjungai relawan KRJ di kediamannya, Jumat (3/5/2019). Iksan Minder Pergi ke Sekolah, Kisah Remaja di Jembrana Tanpa Tangan dan Kaki 

Iksan Minder Pergi ke Sekolah, Kisah Remaja di Jembrana Tanpa Tangan dan Kaki

TRIBUN-BALI.COM, NEGARA - Moh Iksan Nawawi (14 ), tampak semringah saat dikunjungi beberapa relawan kemanusiaan Kelompok Relawan Jembrana (KRJ).

Remaja yang terlahir dengan kondisi tanpa tangan dan kaki ini diminta untuk bersekolah di SLB Negara.

Iksan merupakan anak bungsu lima bersaudara dari pasangan Aramin (59) dan Mariatin (56).

Keluarga ini tinggal di Banjar Kembang, Desa Cupel Kecamatan Negara, Jembrana.

Relawan KRJ datang untuk memotivasi Iksan agar bersedia mengenyam pendidikan.

"Kami berniat untuk "memaksa" istilahnya, Iksan bersekolah. Supaya Iksan mengenyam pendidikan, untuk bekalnya di masa datang," ucap Koordinator Relawan KRJ, Ni Putu Witari, Jumat (3/5/2019).

Baca: Inilah Tiga Wakil Indonesia yang Lolos ke Final New Zealand Open 2019

Baca: PD Pasar Gencarkan Sosialisasi Bank Sampah Pasar Badung

Witari mengakui, keluarga Aramin, adalah penerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH).

Ayah Iksan sehari-hari bekerja menjadi tukang pijat dan tukang cukur rambut dengan penghasilan pas-pasan.

Sedangkan ibunya, terkadang menjadi buruh harian di pabrik jika ada ikan.

"Sempat empat tahun lalu itu viral sampai-sampai karena pemberitaan. Bupati Jembrana I Putu Artha juga turun. Tapi kami merasa iba karena Iksan ternyata belum sekolah. Nah, di momen ini kami makanya datang lagi dan meminta supaya mau sekolah," ungkapnya.

Witari menyebut, empat tahun lalu, Iksan mendapat bantuan dari berbagai pihak, baik kursi roda dan tangan palsu serta bantuan lainnya yang diterima langsung orangtua Iksan.

Sayangnya, Iksan saat itu belum mau sekolah karena merasa minder.

Baca: Vespa Sprint S Dibanderol Rp 48,5 Juta, Piaggio Kenalkan Produk Terbaru

Baca: Tanggul Jebol, Jalan Menuju Setra Yehembang Putus dan Rusak Parah

Ditambah lagi, orangtuanya juga mengalami keterbatasan.

"Saat itu kami belum berhasil memotivasi agar Iksan bisa sekolah. Karena hak pendidikan juga harus diterima setiap anak bahkan anak berkebutuhan khusus (ABK), maka kami terus berupaya memotivasi. Kami juga kerap bekerjasama dengan SLBN Negara," tegasnya.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved