Smart Woman
Bangun Perpustakaan 'Bu Made' di Pancasari, Ratih Kumala Nyalakan Harapan dari Desa
Perpustakaan yang diberi nama Bu Made (Buku Masuk Desa) itu, ia dirikan bersama beberapa kawannya yang peduli terhadap pendidikan di Desa Pancasari
Penulis: I Wayan Sui Suadnyana | Editor: Widyartha Suryawan
Mereka juga membuka kelas untuk belajar musik dan tari tradisional.
"Jadi kira-kira setiap minggu itu sih kegiatannya ada tiga kelas itu. Tergantung jadwalnya siapa yang duluan. Jadi kelasnya itu dari jam 08.00 sampai 12.00 Wita," tuturnya.
Kelas ini dilaksanakan setiap Minggu mengingat para pengajar yang mengisi kelas itu masih bersifat volunteer.
Jumlah anak-anak yang ikut dalam kelas belajar ini berkisar 30 hingga 40 anak. Meski di dalam catatan daftarnya sebenarnya ada lebih dari 50an anak. Pendidikan yang diberikan dalam program ini tidak berbayar.
Tak hanya berhenti di kelas belajar dan perpustakaan. Ratih beserta kawan-kawannya, ingin ke depannya ada kelas inspirasi.
Kelas ini diharapkan bisa diisi oleh mereka yang bersedia membagikan ilmu atau sekadar sharing pengalaman kepada anak-anak, seperti menanamkan pentingnya menjaga lingkungan atau berbagai hal lainnya.
"Kita juga pengen mengubah perspektif anak-anak di sini bahwa mereka kalau pengen jadi apa itu bisa," harap alumni SMA Negeri 3 Denpasar itu.
Tak hanya masyarakat, kini keberadaan Perpustakaan Bu Made juga telah didukung oleh pemerintah desa. Saat ini sedang diproses agar perpustakaan tersebut diakui oleh desa.
Dengan menjadi perpustakaan desa, diharapkan lebih mudah dalam mengurus administrasi dan sebagainya.
Kolaborasi dengan Pemerintah
Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui Dinas Perpustakaan juga melirik perpustakaan ini dengan memberikan pembinaan langsung.
Pada bulan Agustus nanti, pihak dinas berencana memberikan bantuan sebanyak 1.000 buku dan komputer.
"Jadi kita berusaha berhubungan baik dengan instansi agar dapat pembinaan bagaimana menghadirkan perpustakaan yang baik," jelasnya.
Dalam menjalankan Bu Made ini, Ratih sangat ingin bisa memberikan akses bahan bacaan yang layak kepada anak. Hal ini tak terlepas dari pengalaman hidupnya ketika waktu kecil sekolah SD di sana.
Dirinya yang merupakan warga asli Desa Pancasari merasakan sulitnya akses terhadap bahan bacaan, meski ia mendapat beberapa majalah dari orang lain yang bisa menambah wawasannya.
Ketika Ratih merasakan akses pendidikan dengan bersekolah SMA ke Denpasar dan berhasil kuliah hingga ke ibukota, maka ia juga menginginkan anak-anak di desa kelahirannya itu bisa menikmati akses yang sama terhadap bahan bacaan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/luh-putu-ratih-kumala-dewi-dan-perpustakaan-bu-made.jpg)