Ramadan 2019

Nuzulul Quran, Peristiwa Turunnya Wahyu Pertama, dan Fakta Nabi Muhammad tak Bisa Baca

Nuzulul Quran secara istilah artinya peristiwa penurunan Al Qur’an Al Quran (KBBI-alquran)secara keseluruhan diturunkan dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul

Nuzulul Quran, Peristiwa Turunnya Wahyu Pertama, dan Fakta Nabi Muhammad tak Bisa Baca
Tribun Bali/Noviana Windri Rahmawati
Alquran tertua yang ditulis dengan tangan di atas kertas pelepah pohon pisang dan sampul kulit unta. 

Malaikat datang dan berkata, ‘Bacalah!’ Beliau menjawab, ‘Aku tidak bisa membaca’.”

Rasulullah mengisahkan, “Malaikat Jibril memegangku dan mendekapku sampai aku merasa begitu payah, lalu dia melepaskanku. Ia berkata lagi, ‘Bacalah!’ Aku menjawab, Aku tidak bisa membaca.’

Malaikat Jibril memegangku dan mendekapku untuk kedua kalinya hingga aku merasa begitu payah, kemudian melepaskan aku. Ia berkata kembali, ‘Bacalah!’ Aku menjawab, ‘Aku tidak bisa membaca.’

Malaikat Jibril memegangku dan mendekapku untuk ketiga kalinya hingga aku merasa begitu payah, kemudian dia melepaskan aku.

Kini ia membaca, "Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya’.” (QS. Al-Alaq: 1-5).

Maka dari itu, wahyu yang pertama kali turun adalah Quran Surat Al Alaq ayat 1-5.

Nabi Muhammad Pulang dalam Keadaan Menggigil Ketakutan

Muhammad pulang membawa wahyu itu dengan ketakutan.

Beliau mencari Khadijah binti Khuwailid dan berkata, “Selimuti aku! Selimuti aku!” Khadijah menyelimutinya sampai reda rasa takutnya.

Lalu Muhammad bertanya tak mengerti, “Apa yang terjadi padaku?” Beliau menceritakan semuanya kepada istri tercintanya. “Aku betul-betul khawatir akan keselamatan diriku,” ujar beliau menutup cerita.

Khadijah menenangkannya, “Sekali-kali tidak. Allah tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Engkau orang yang suka menyambung silaturrahim, memikul beban orang yang susah, memberi piutang kepada yang membutuhkan, memuliakan tamu, dan membela kebenaran.”

Ketika Nabi Muhammad diselimuti Khadijah, rupanya Malaikat Jibril juga memberikan wahyunya dalan surat Al Muddatsir.

1. Hai orang yang berkemul (berselimut),
2. bangunlah, lalu berilah peringatan!
3. dan Tuhanmu agungkanlah!
4. dan pakaianmu bersihkanlah,
5. dan perbuatan dosa tinggalkanlah,
6. dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.
7. dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.
( QS Al-Muddatstsir: 1-7)

Dilansir dari Youtube ceramah Ustadz Abu Himam Zainuddin, diriwayatkan oleh asy-Syaikhoon (al-Bukhori dan Muslim) yang bersumber dari Jabir bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Ketika aku telah selesai uzlah-selama sebulan di gua Hira-, aku turun ke lembah. Sesampainya ke tengah lembah, ada yang memanggilku, tetapi aku tidak melihat seorangpun di sana. Aku menengadahkan kepala ke langit. Tiba-tiba aku melihat malaikat yang pernah mendatangiku di Gua Hira.

Sedang duuduk antara kursi langit dan bumi. Maka aku takut.

Aku cepat-cepat pulang dan berkata (kepada orang rumah): “Selimuti aku ! Selimuti aku !”

Maka turunlah ayat ini (Al-Muddatstsir: 1-7) sebagai perintah untuk menyingsingkan selimut dan berdakwah.

Untuk meyakinkan, Khadijah Ajak Nabi Muhammad kepada Waraqah

Khadijah mengajak Muhammad menemui Waraqah ibn Naufal ibn Asad ibn Abdil Uzza, sepupu Khadijah ini adalah penganut Nasrani yang taat pada masa jahiliyah.

Waraqah mampu menulis kitab dalam bahasa Ibrani, bahkan menulis Injil dalam bahasa Ibrani dengan bagus.

Khadijah berkata kepadanya, “Oh sepupuku, dengarkanlah cerita anak saudaramu ini!”

Waraqah pun bertanya, “Wahai saudaraku, apa yang kaulihat?”

Maka berceritalah Muhammad tentang apa saja yang telah beliau lihat.

Waraqah kemudian mengomentari, “Ini adalah Namus yang pernah turun kepada Musa a.s. Andai saja aku masih muda saat itu nanti. Andai saja aku masih hidup ketika engkau diusir oleh kaummu.”

Spontan Muhammad bertanya, “Apakah kaumku akan mengusirku?”

Waraqah menjawab, “Ya. Tidaklah seseorang membawa seperti yang kaubawa, kecuali pasti akan dimusuhi.

Andai aku masih hidup saat engkau diutus, aku akan menolongmu dengan sungguh-sungguh.”

Wahyu Sempat Terputus

Dalam riwayat Shahih Bukhari dan Shahih Muslim terdapat teks yang menunjukkan bahwa wahyu terputus sewaktu Muhammad turun gunung.

Dari Youtube soal Hadits Tentang Asbabun Nuzul Surat Al Muddatstsir, oleh Ustadz Abu Himam Zainuddin, Rasulullah SAW pun sempat gundah gulana karena telah beberapa hari wahyu tidak lagi turun.

Beberapa pendapat banyak yang mengemukakan soal berapa lama terputusnya wahyu.

Ada yang mengatakan 2 tahun, sebagian lagi mengatakan hanya 2 bulan, 40 hari, hingga mengatakan 3 hari saja.

Namun tak ada bukti otentik soal berhentinya wahyu, namun berhentinya wahyu ini memang benar adanya.

Hikmah berhentinya wahyu dahulu adalah untuk menentramkan hati Rasulullah SAW.

Hal tersebut karena Rasul kaget dan terguncang kondisi psikologisnya.

Maka dari itu, Khadijah pun mempertemukan Nabi Muhammad dan pamannya Waraqah.

Setelah tenang, barulah turun wahyu kedua, yakni QS Al Mudatsir.

Baca: Huni Rutan Pondok Bambu, Sang Kakak Ungkap Kondisi Memprihatinkan Dhawiya : Bajunya Sampai Basah

Hikmah berikutnya adalah membedakan masa nubuwah dan masa risalah.

Wahyu pertama QS Al Alaq ini sebagai surat nubuwah, sebagai bukti Rasul allah diangkat jadi nabi.

Dan belum ada perintah untuk mendakwahkan pada umatnya. Hanya semata-mata ilmu untuk beliau.

Sementara dalam wahyu kedua, QS Al Mudatsir, Nabi Muhammad SAW sudah menjadi Rasul.

Dalam surat Al Mudatsir, sudah ada perintah Nabi Muhammad SAW untuk mendakwahkan kepada umatnya.

Imam Bukhari di dalam Kitabut Ta’bir menuturkan kondisi beliau sebagai berikut.

Wahyu untuk beberapa waktu tidak turun. Berdasarkan riwayat yang saya ketahui, Nabi s.a.w merasa gundah dan gelisah, hal ini diekspresikannya dengan bersicepat ke puncak gunung, tempat Gua Hira berada, lalu bermaksud menjatuhkan diri ke bawah.

Tiba-tiba Jibril menampakkan diri dan berkata, “Hai Muhammad, engkau betul-betul seorang Rasul Allah!” Maka hatinya kembali tenang, jiwanya kembali tenteram lalu beliau pun pulang.

Demikianlah sejarah turunnya Al Quran secara singkat, yang merupakan awal dimulainya masa kenabian Rasul Muhammad SAW yang memiliki Al Quran sebagai mukjizat yang luar biasa.

Berikut video lengkapnya:

Artikel ini ditulis Yuyun Hikmatul Uyun telah tayang di bangkapos.com , http://bangka.tribunnews.com/2019/05/19/nuzulul-quran-sejarah-turunnya-al-quran-nabi-muhammad-didatangi-jibril-saat-menyepi-di-gua-hira?page=all.

Editor: Rizki Laelani
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved