250 Peserta Ikut Seminar Pendekatan Komprehensif Penguatan Layanan Kesehatan Jiwa Berkelanjutan

Seminar dengan tema "Inclusive Approaches To Mental Wellbeing: Strengthening Continuum Of Mental Health Care diikuti 250 peserta

250 Peserta Ikut Seminar Pendekatan Komprehensif Penguatan Layanan Kesehatan Jiwa Berkelanjutan
Tribun Bali/Rino Gale
250 peserta ikut seminar pendekatan komprehensif untuk penguatan layanan kesehatan jiwa yang berkelanjutan di Ruang Pertemuan dr. A.A Made Djelantik, Fakultas Unud, Jalan Sudirman, Denpasar, Kamis (23/5/2019). 

250 Peserta Ikut Seminar Pendekatan Komprehensif Penguatan Layanan Kesehatan Jiwa Berkelanjutan

Laporan Wartawan Tribun Bali, Rino Gale

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Seminar dengan tema "Inclusive Approaches To Mental Wellbeing: Strengthening Continuum Of Mental Health Care (Pendekatan Komprehensif Untuk Penguatan Layanan Kesehatan Jiwa Yang Berkelanjutan) ini diikuti 250 peserta.

Diantaranya, dokter di puskesmas seluruh Bali dan pemegang program jiwa, ada dokter muda dan calon spesialis.

Ada juga peserta dari luar Bali seperti Lombok, Makassar, Padang, dan Medan.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, kolaborasi antara tiga departemen yaitu Departemen Psikiatri, Departemen Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Pencegahan, Departemen Farmakologi dan Terapi, di Ruang Pertemuan dr. A.A Made Djelantik, Fakultas Unud, Jalan Sudirman, Denpasar, Kamis (23/5/2019).

Ketua Pelaksana dr Cokorda Bagus Jaya Lesmana saat dikonfirmasi Tribun Bali mengatakan, tujuan dan manfaat dari seminar ini adalah meningkatkan pemahaman peserta seminar mengenai pendekatan komprehensif yang harus dilakukan dalam penguatan layanan kesehatan jiwa yang berkelanjutan.

Baca: Target Perbaikan Jalan 5,6 Kilometer, Tekan Angka Kecelakaan di Jalur Tengkorak

Baca: Grand Prize Honda Scoopy Diundi Minggu Ini, Yuk Ikut Program Digital and Device Exhibition Telkomsel

"Ya dan juga meningkatkan peran serta dari para akademisi, puskesmas dan pihak terkait untuk bersama-sama secara komprehensif dalam penanganan kesehatan jiwa baik preventif, kuratif dan relabilitatif melalui pendekatan biopsikospirit-sosiobudaya," ujarnya.

Ia mengatakan, latar belakang kegiatan kesehatan jiwa merupakan salah satu target kesehatan yang harus dicapai selain kesehatan fisik maupun sosial.

"Sesuai definisi kesehatan menurut Kementerian Kesehatan yang tertulis dalam UU nomor 23 tahun 1992 yaitu merupakan keadaan normal dan sejahtera anggota tubuh, sosial dan jiwa pada seseorang untuk dapat melakukan aktivitas tanpa gangguan yang berarti dimana ada kesinambungan antara kesehatan fisik, mental dan sosial seseorang termasuk dalam melakukan interaksi dengan lingkungan," jelasnya.

Hal ini selaras dengan definisi sehat menurut WHO dimana sehat tidak hanya dari segi fisik tetapi juga dari segi mental dan sosial.

Baca: Siswa Kerjakan Soal Pakai HP, SMK Pariwisata Dalung Terapkan Ujian Berbasis Android

Baca: Cerita di Balik Brimob yang Video Call Anak saat Aksi 22 Mei, Kini Ditawari Liburan ke Bali Gratis

Upaya menjaga kesehatan jiwa berkelanjutan semakin penting dilakukan mengingat kasus-kasus yang berhubungan  dengan kesehatan jiwa semakin meningkat.

"Tuntutan hidup berdampak pada stres berlebih yang berdampak pada gangguan kesehatan jiwa. Banyak masyarakat yang belum memahami bahwa gangguan depresi dan stres bisa mengakibatkan kegilaan, gangguan mental lainnya dan bunuh diri. Berdasarkan hal-hal tersebut maka dirasa perlu diadakan seminar ini," ujarnya.

Tambahnya, hal ini dapat dilakukan dengan melakukan pendidikan berkelanjutan yang melibatkan Fakultas Kedokteran, dimana peranan bidang ilmu kesehatan masyarakat, psikiatri dan farmakologi sangat diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan tenaga kesehatan dan paramedis dalam memberikan pelayanan kesehatan jiwa berkelanjutan.

"Peranan pemegang kebijakan tidak kalah pentingnya dalam hal ini dinas kesehatan untuk memberikan kesempatan kepada semua pihak yang terlibat di puskesmas meningkatkan pengetahuan yang dimiliki dalam deteksi dini, penegakan diagnosa dan pemberian terapi rasional psikotropika," tambahnya.(*)

Penulis: Rino Gale
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved