21 Armada BPBD Denpasar Diupacarai saat Tumpek Landep, Ardi Ganggas Memohon Dijauhkan dari Bahaya

Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Denpasar menggelar upacara tumpek landep.

21 Armada BPBD Denpasar Diupacarai saat Tumpek Landep, Ardi Ganggas Memohon Dijauhkan dari Bahaya
Tribun Bali/Rizal Fanany
Tribun Bali/RIZAL FANANY/I Putu Supartika Pegawai BPBD Kota Denpasar memercikan air suci (tirta) ke peralatan dan armada BPBD dalam persembahyangan Hari Tumpek Landep di Kantor BPBD Denpasar, Sabtu (25/5/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Denpasar menggelar upacara Tumpek Landep.

Para petugas yang kesehariannya bekerja penuh risiko ini berharap selalu diberikan keselamatan dan dijauhkan dari marabahaya.

Semua armada operasional BPBD Kota Denpasar juga diupacarai mulai dari mobil pemadam kebakaran, ambulance, sepeda motor, hingga mesin pemotong kayu juga diupacarai.

Upacara ini dimulai pukul 10.30 Wita pada Sabtu (25/5), yang dipimpin seorang sulinggih atau pendeta.

Semua armada yang diupacarai ini juga dipasangi dengan kain kasa putih kuning serta gantungan dan di atas kain kasa diisi banten.

Setelah sulinggih usai memimpin upacara, dilanjutkan sembahyang bersama petugas BPBD, di Jalan Imam Bonjol Denpasar. 

Sekretaris BPBD Kota Denpasar, Ardi Ganggas mengatakan dalam perayaan tumpek landep ini semua armada yang berjumlah 21 unit diupacarai.

"Tumpek landep ini intinya mensyukuri dan mengupacarai sarana dalam penanggulangan bencana. Semua armada ini disucikan dan kami juga berdoa agar saat bertugas dijauhkan dari marabahaya," harap Ardi.

Sebelum upacara ini, semua armada juga sudah dibersihkan secara fisik atau dicuci.

Wakil Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali, Pinandita I Ketut Pasek Swastika mengatakan, Tumpek Landep merupakan pawetonan untuk peralatan yang lancip seperti keris, tombak, dan alat perang lainnya.  

"Pada saat inilah mestinya kita membersihkan diri terkait peralatan yang lancip tersebut. Lancip itu juga termasuk pikiran. Sehingga Tumpek Landep ini bukan hanya ngotonin sarwa lancip, tapi juga pikiran yang utama, karena pikiran adalah awal dari semua," katanya. Karena dari pikiran ada perkataan, karena perkataan ada perbuatan, dan perbuatan itulah yang menunjukkan jati diri seseorang.

Ia mengajak saat momen ini untuk menghindari hoax, mencaci maki, mendiskreditkan orang, dan semua yang berbau kotor atau negatif. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved