Simpang Ring Banjar
Banjar di Buleleng Ini Kembangkan Program Rumah Plastik, Mampu Cacah 500 Ton Tiap Tahun
Banjar Dinas Pondok, Buleleng memiliki program pengolahan sampah plastik sehingga mampu menghasilkan rupiah yang disebut Rumah Plastik
Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani | Editor: Widyartha Suryawan
TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Banjar Dinas Pondok, Desa Petandakan, Kecamatan Buleleng memiliki jumlah penduduk mencapai 1.135 jiwa.
Di Banjar ini sedang dikembangkan program untuk mengolah sampah plastik sehingga mampu menghasilkan rupiah.
Namanya Rumah Plastik. Tempat ini mulai dikembangkan sejak 2016 lalu oleh Putu Eka Darmawan.
Sejak awal berdiri, Rumah Plastik mampu mencacah sampah plastik hingga 500 ton setiap tahunnya. Hasil cacahannya dijual kembali ke perusahaan daur ulang yang ada di Jawa.
Sampah plastik sebut Darmawan, cukup dicacah terlebih dahulu pada sebuah mesin, kemudian dijemur lalu dikemas ke dalam karung.
Seluruh sampah plastik yang dicacah didapatkan dari bank-bank sampah yang ada di Buleleng.
"Sampah-sampah plastik yang ada di Rumah Plastik ini didapat dari hasil kerjasama kami bersama beberapa bank sampah yang Ada di Buleleng. Jadi mereka menjual kepada kami untuk kami proses. Selama ini dengan proses yang kami lakukan cukup membantu para penggelut bank sampah di Buleleng," ujarnya.
Setiap sampah plastik yang dibawa ke Rumah Plastik memiliki harga yang berbeda-beda. Jenis botol pelumas kendaraan bermotor dihargai Rp 150 per botol.
Jenis botol minuman kemasan, dihargai Rp 1.500 hingga Rp 3.500 per kilogram. Sementara bila sudah dicacah harga per karungnya bisa mencapai sekitar Rp 15 ribu.
"Yang kami cacah khusus sampah plastik botol," ujar dia.
Selain mengolah sampah-sampah plastik, di Rumah Plastik ini Putu Eka Darmawan juga menyipakan tempat belajar bagi masyarakat yang ingin mempelajari cara mengelola sampah plastik.
Wajib Aturkan Babi Guling
Selain mampu mengolah sampah plastik, Banjar Dinas Pondok juga menyimpan sebuah keunikan. Di Banjar ini terdapat sebuah pura, yang disebut Pura Penyegaraan.
Di pura ini hanya terdapat satu palinggih yakni Palinggih Ratu Bagus Ngurah Segara yang harus disungsung oleh anak pertama yang berasal dari Desa Petandakan.
Di pura tersebut, terdapat sebuah tradisi bagu anak pertama untuk menghaturkan sesajen berupa babi guling betina berwarna hitam, sekali seumur hidup.
Perbekel Desa Petandakan, Wayan Joni Arianto mengatakan, tidak ada yang tahu awal mula mengapa anak pertama wajib menghaturkan babi guling betina di pura tersebut.
"Sudah dilaksanakan sejak turun temurun. Kalau tidak dilaksanakan katanya bisa sakit berkepanjangan," katanya.
Pura Penyegaraan sebut Joni biasanya ramai saat puranama dan tilem. Sesuai namanya, pura ini kerap digunakan oleh masyarakat untuk memohon kesembuhan dari berbagai macam penyakit. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/rumah-plastik-di-banjar-dinas-pondok.jpg)