Serba Serbi

Buda Wage Ukir, Pemujaan Dewi Laksmi, Ada Kepercayaan Tak Boleh Bayar Utang

Setiap enam bulan sekali atau tepatnya 210 hari sekali, masyarakat Hindu di Bali melaksanakan hari raya Buda Wage Ukir.

Buda Wage Ukir, Pemujaan Dewi Laksmi, Ada Kepercayaan Tak Boleh Bayar Utang
tribun bali
Ilustrasi sembahyang 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Setiap enam bulan sekali atau tepatnya 210 hari sekali, masyarakat Hindu di Bali melaksanakan hari raya Buda Wage Ukir.

Hari ini, Rabu (29/5/2019) merupakan hari raya Buda Wage Ukir.

Hari raya ini juga dikenal dengan nama Buda Cemeng Ukir.

Buda Wage Ukir merupakan hari raya yang dirayakan berdasarkan pertemuan Saptawara Buda (Rabu), Pancawara Wage, dan wuku Ukir.

Pada hari ini dipercaya sebagai pemujaan Dewi Laksmi atau Sang Hyang Sri Nini, Dewa Sadhana atas rejeki atau kekayaan.

Dalam lontar Sundarigama, terkait Buda Wage disebutkan;

Buda Waga, ngaraning Buda Cemeng, kalingania adnyana suksema pegating indria, Betari Manik Galih sira mayoga, nurunaken Sang Hyang Ongkara Mertha ring sanggar, muang ring luwuring aturu, astawakna ring seri nini kunang duluring diana semadi ring latri kala.

Artinya berdasarkan terjemahan lontar Sundarigama yang diterbitkan oleh Parisada Hindu Darma Kabupaten Tabanan tahun 1976 yakni:

Buda Waga, juga disebut Buda Cemeng.

Maknanya ialah, mewujudkan inti hakekat kesucian pikiran, yakni dengan memutuskan atau mengendalikan sifat-sifat kenafsuan atau indria.

Halaman
12
Penulis: Putu Supartika
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved