Tulis Sastra Bali Modern Sejak 1913, Karya Made Pasek Ditemukan di Belanda dan Australia

Sastra Bali Modern pertama kali ditulis oleh I Made Pasek, lewat sejumlah karyanya yang ditemukan di negara Australia dalam bentuk mikro film

Tulis Sastra Bali Modern Sejak 1913, Karya Made Pasek Ditemukan di Belanda dan Australia
Tribun Bali/Ratu Ayu
Ketut Putu Astita (kiri) bersama Gede Gita Purnama (tengah) menunjukkan foto dan karya-karya almarhum I Made Pasek, sang pelopor Sastra Bali Modern. 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Almarhum I Made Pasek, pria asal Kelurahan Paket Agung, Desa Pakraman Buleleng, dianugerahi penghargaan Wija Kusuma sebagai Pelopor Sastra Bali Modern oleh mantan Bupati Buleleng, Putu Bagiada, pada Mei 2009 lalu. Pasek telah menulis sejak tahun 1913.

Kiprah I Made Pasek di dunia Sastra Bali Modern baru diketahui pada tahun 2000, melalui penelitian yang dilakukan oleh Prof Nyoman Darma Putra.

Dari penelitian itu terungkap bahwa Sastra Bali Modern sejatinya pertama kali ditulis oleh I Made Pasek, lewat sejumlah karyanya yang ditemukan di negara Australia dalam bentuk mikro film.

Hal ini lantas meruntuhkan teori yang sebelumnya menyebutkan jika sastrawan Bali modern dilahirkan pertama kali oleh I Wayan Gobyah, warga asal Denpasar yang lama tinggal di Buleleng.

Karya-karya almarhum I Made Pasek dapat ditemukan di Gedung Kertya, di Perpustakaan Nasional, di Perpusatakan Belanda dan Australia.

Ada total 13 buku karya I Made Pasek yang terbit pada tahun 1913 sampai 1922.

Menariknya, selain menulis Sastra Bali Modern, baru-baru ini juga diketahui bahwa I Made Pasek pernah menjabat sebagai mantri guru (guru kepala) pertama di Bali.

"Dia sempat belajar ke Bandung. Sekolah guru pertama itu di Bandung dan almarhum sempat belajar di sana. Ada beberapa orang Bali juga. Namun yang paling aktif menulis adalah I Made Pasek," jelas peneliti karya I Made Pasek, Gede Gita Purnama, Minggu (9/6/2019).

Menurut pengajar di Unud ini, I Made Pasek juga satu-satunya orang yang menulis buku tentang tata cara mengajar Bahasa Bali di sekolah.

Buku panduan untuk guru-guru itu sebut Purnama, ditemukan di Perpustakaan Nasional sebagai koleksi langka. Tidak banyak orang yang tahu terkait karya almarhum yang dikaruniai dua anak itu.

Halaman
123
Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved