Tulis Sastra Bali Modern Sejak 1913, Karya Made Pasek Ditemukan di Belanda dan Australia
Sastra Bali Modern pertama kali ditulis oleh I Made Pasek, lewat sejumlah karyanya yang ditemukan di negara Australia dalam bentuk mikro film
Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani | Editor: Widyartha Suryawan
Di mana cerpen itu dibuat dalam bentuk bahasa Bali kepara, namun tulisannya menggunakan aksara lantin dengan ejaan van ophuijsen.
"Biasanya apa yang dilihat dibuat dalam bentuk geguritan. Namun I Made Pasek rupanya sudah menggunakan teknik modern lewat cerpen. Buku-bukunya bisa sampai ke luar negeri karena banyak faktor juga. Mungkin karena perdagangan atau kebutuhan ilmu," terangnya.
Selain itu, Purnama juga mengaku sempat menemukan buku bahan ajar tentang penyakit mata yang diterjemahkan oleh I Made Pasek ke dalam aksara bali.
Pengaruh sastra yang diciptakan oleh pria kelahiran 1889 itu diakui Purnama memang tidak terlalu besar, mengingat karya-karyanya sangat langka sehingga tidak diketahui oleh banyak orang.
Namun satu yang hingga saat ini masih digunakan yakni terjemahan cerita Tantri dari yang semula berbentuk bahasa Jawa Kuno diterjemahkam ke dalam Bahasa Bali.
Hasil terjemahan itu pun kini masih sering dicetak dan dijadikan sebagai bahan LKS Bahasa Bali.
"Memang tidak ada hubungannya dengan Sastra Bali Modern. Terjemahan cerita Tantri itu berperan besar, hingga kini dikutip dijadikan bahan LKS bahasa Bali. Itu diterjemahkan pada tahun 1930an," ungkap Purnama.
Sementara itu, cucu almarhum I Made Pasek, Ketut Putu Astita mengatakan, karya-karya sang kakek memang tidak banyak tersimpan di rumah.
Pihak keluarga hanya memiliki tulisan tangan I Made Pasek, yang menyalin lontar-lontar milik leluhurnya terdahulu.
"Lontar-lontar yang disalin itu macam-macam. Salah-satunya lontar wariga dan lontar usada. Itu disalin dalam bahasa Bali," kata Astita.
Selama hidupnya Putu Astita mengaku tidak pernah bertemu dengan almarhum I Made Pasek. Hal ini terjadi lantaran I Made Pasek meninggal dunia di usia masih terbilang muda, yakni sekitar 35 tahun.
"Dulu waktu saya masih SD, bapak saya cerita bahwa kakek saya penerjemah cerita Tantri. Kebiasaan menulisnya memang tidak diwarisi keluarga kami. Saya dulu sekolah di elektronika. Bapak saya juga pedagang," tutupnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/pelopor-sastra-bali-modern-i-made-pasek.jpg)