Gepeng Tangkapan Satpol PP Gianyar, Masih dari Munti Gunung dan Pedahan

Masyarakat Kabupaten Karangasem, yang tetap membandel mengemis di Kabupaten Gianyar, mereka berasal dari desa yang tak asing lagi, yakni Munti Gunung

Gepeng Tangkapan Satpol PP Gianyar, Masih dari Munti Gunung dan Pedahan
Tribun Bali / I Wayan Eri Gunarta
Gelandangan dan pengemis (Gepeng) asal Karangasem diamankan di Kantor Dinas Satpol PP Gianyar, Jumat (21/6/2019) 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Masyarakat Kabupaten Karangasem, yang tetap membandel mengemis di Kabupaten Gianyar, mereka berasal dari desa yang tak asing lagi, yakni Munti Gunung dan Pedahan, Kecamatan Kubu, Karangasem.

Bahkan petugas Dinas Sosial (Dinsos) Gianyar sudah sangat hafal dengan jalur menuju desa para gepeng ini.

Bahkan kondisi gelombang jalan pun mereka hafal.

Sebab para gepeng yang selalu dijaring Satpol PP Gianyar, lalu diserahkan ke Dinsos Gianyar untuk dipulangkan ke kampungnya, sejak beberapa tahun lalu merupakan warga Munti Gunung dan Pedahan.

Kepala Dinas Satpol PP Gianyar, I Made Watha, Jumat (21/6/2019) mengatakan, dari 22 orang gepeng yang terjaring razia pagi ini, sembilan orang berasal dari Munti Gunung dan 13 orang dari Pedahan.

"Kampungnya tetap itu-itu saja, cuma kadang orang yang kita tangkap ada yang baru. Bukan berarti yang pernah kita tangkap, dia tak kembali lagi. Tapi karena dia sudah memiliki tempat persembunyian saat kita melakukan razia gepeng," ujar Watha, yang merupakan mantan Kadis Sosial Gianyar, yang kini juga menjabat Plt Kadis Sosial Gianyar itu.

Menurut Watha, keberadaan para pengemis ini bukanlah bentuk dari masalah sosial, atau ketiadaan lapangan pekerjaan.

Namun ini merupakan penyakit sosial. Karena itu, permasalahan ini tidak bisa hanya diselesaikan oleh pemerintah.

Masyarakat juga diharapkan ikut mendidik para gepeng ini, supaya mau berhenti mengemis.

"Dilihat dari fisiknya, tak satupun dari mereka yang seharusnya mengambil pekerjaan ini. Fisik mereka sempurna, dan masih muda-muda. Bahkan yang anak-anak, cantik-cantik, dan ganteng. Tapi karena didikan orangtuanya menyuruh mereka menggepeng, kasihan anak-anak," ujar Watha.

Watha mengimbau supaya masyarakat tidak memberikan apapun pada para pengemis ini, karena pemberian itu justru akan membuat mereka lebih betah menjadi pengemis.

"Mereka betah karena ada saja yang ngasi sedekah. Bukannya kita ingin menyengsarakan mereka, tapi hanya dengan tidak memberikan apa-apa, mereka akan mau berhenti mengemis dan mau mengambil pekerjaan yang layak," ujarnya.

Menurut Watha, keberadaan gepeng ini tidak hanya mengganggu masyarakat, tetapi juga mencoreng citra pemerintah di mata wisatawan.

"Mereka itu ngejar-ngejar, orang lagi makan dipaksa dimintai uang, ini sudah tergolong mengganggu ketertiban umum," ujarnya. (*)

Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved