Dilarang Sejak 2018, Kini 77 Warung Daging Anjing Di Bali Diklaim Sudah Tutup

Pasalnya daging anjing bukan merupakan bahan pangan utama dan justru berpotensi tinggi menyebarkan virus rabies berbahaya.

Dilarang Sejak 2018, Kini 77 Warung Daging Anjing Di Bali Diklaim Sudah Tutup
pixabay.com
Ilustrasi anjing rabies. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Dinas Kesehatan dan Peternakan Hewan (Dinkeswan) Provinsi Bali mengklaim telah menutup sejumlah 77 warung daging anjing (dog meat trade) yang tersebar di seluruh Provinsi Bali.

Sebelumnya, selama tahun 2018, sejumlah 44 warung telah berhasil ditutup secara serentak.

Sisanya, sebanyak 33 warung diketahui masih tetap membandel menjual masakan daging anjing.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, sebaran warung daging anjing ini tersebar di 5 wilayah Bali, yakni Badung (7 warung), Denpasar (6 warung), Karangasem (5 warung), Buleleng (9 warung) dan Jembrana (6 warung).

Sebab itu, tim gabungan yang terdiri dari anggota kepolisian, dinas veteriner dan Satpol PP menggelar sidak selama sebulan dimulai pada 23 April hingga 10 Mei 2019 lalu.

Hasilnya, dari total 33 sisa warung yang disidak tersebut, besar diantaranya bersedia menutup atau meniadakan menu daging terlarang di warungnya.

Kabid Kesehatan Hewan, Dinkeswan Provinsi Bali, Ni Made Sukerni mengatakan sebenarnya kegiatan penutupan sudah dilakukan sejak lama, terlebih sejak Surat Edaran Gubernur yang melarang aktivitas perdagangan daging anjing dikeluarkan pada 2018 silam.

''Selama sebulan kemarin, April hingga Mei 2019 kami lakukan sidak dan monitoring lagi. Apakah warung yang dulu bersedia nutup masih bandel apa gak. Setelah kita cek ternyata masih ada yang jualan,'' katanya kepada Tribun Bali, Rabu (3/6/2019).

Kendati begitu, beberapa warung yang terdeteksi menjual daging anjing kata dia juga sudah tutup.

''Nanti kalau ada yang masih bandel jualan lagi, pasti akan kami tindaklanjuti dengan hukum yang berlaku,'' tegasnya.

Lebih lanjut, mengingat peredaran daging anjing khususnya di wilayah Indonesia Timur sudah berlangsung sejak lama, apakah dalam kegiatan ini Pemprov Bali juga menganggarkan subsidi kepada pemilik warung khusus daging anjing.

''Belum, kita belum ada anggaran untuk kasi modal pedagang yang tutup,'' katanya.

Menurut dia, penjualan daging anjing jelas dilarang. Pasalnya daging anjing bukan merupakan bahan pangan utama dan justru berpotensi tinggi menyebarkan virus rabies berbahaya.

''Karena itu tidak ada arah ke bikin regulasi, surat edaran saja sudah cukup. Lagian sudah ada Perda Rabies. Kita lebih menekankan pada sosialisasi saja bahwa anjing itu bukan bahan pangan, malah jadi arahnya ke penyakit,'' tandasnya. (*)

Penulis: eurazmy
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved