Dharma Wacana

Sulinggih Tak Mesti Muput Upacara

Sulinggih, biasanya dikenal umat Hindu, jika yang bersangkutan menjadi pemimpin ritual atau upacara keagamaan, serta kerap memberikan dharma wacana.

Sulinggih Tak Mesti Muput Upacara
TRIBUN BALI
Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda 

Oleh Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda

TRIBUN-BALI.COM, -- Sulinggih, biasanya dikenal umat Hindu, jika yang bersangkutan menjadi pemimpin ritual atau upacara keagamaan, serta kerap memberikan dharma wacana.

Sosok sulinggih seperti ini sangat dihormati dan dikagumi.

Namun kondisi berbeda terjadi jika orang yang telah madwijati tidak pernah terlibat dalam hal tersebut.

Komentar-komentar miring pun kerap dilayangkan. Seperti, ‘sulinggih gak laku’.

Bercermin dari hal tersebut, khususnya di bidang ritual, apakah seseorang yang telah madwijati atau menjadi sulinggih harus muput atau memimpin upacara keagamaan?

Jika seseorang sudah madwijati, berarti dia telah terlahir untuk kedua kalinya.

Pertama, lahir dari rahim ibu dalam bentuk material. Kedua, lahir dari sebagai aspek kesucian yang dilahirkan oleh nabe (guru rohaniawan).

Kondisi agama kita di Bali adalah perpaduan sekta Siwa Sidhanta dan Tantra.

Saripati dari ajaran Tantra adalah pemujaan kepada ibu semesta.

Halaman
123
Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved