Dharma Wacana

Sulinggih Tak Mesti Muput Upacara

Sulinggih, biasanya dikenal umat Hindu, jika yang bersangkutan menjadi pemimpin ritual atau upacara keagamaan, serta kerap memberikan dharma wacana.

Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Ady Sucipto

Oleh Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda

TRIBUN-BALI.COM, -- Sulinggih, biasanya dikenal umat Hindu, jika yang bersangkutan menjadi pemimpin ritual atau upacara keagamaan, serta kerap memberikan dharma wacana.

Sosok sulinggih seperti ini sangat dihormati dan dikagumi.

Namun kondisi berbeda terjadi jika orang yang telah madwijati tidak pernah terlibat dalam hal tersebut.

Komentar-komentar miring pun kerap dilayangkan. Seperti, ‘sulinggih gak laku’.

Bercermin dari hal tersebut, khususnya di bidang ritual, apakah seseorang yang telah madwijati atau menjadi sulinggih harus muput atau memimpin upacara keagamaan?

Jika seseorang sudah madwijati, berarti dia telah terlahir untuk kedua kalinya.

Pertama, lahir dari rahim ibu dalam bentuk material. Kedua, lahir dari sebagai aspek kesucian yang dilahirkan oleh nabe (guru rohaniawan).

Kondisi agama kita di Bali adalah perpaduan sekta Siwa Sidhanta dan Tantra.

Saripati dari ajaran Tantra adalah pemujaan kepada ibu semesta.

Dalam proses pemujaan dilakukan melalui mantra, yantra, tantra, yoga dan pemujaan.

Sementara di dalam ajaran Siwa Sidhanta, ada empat poin, yakni yoga, jnana, kriya, dan carya. Carya itu adalah membuat banten.

Karena itu, siapapun yang meraga siwa di Bali, secara otomatis ‘muput’ upacara, sebagai bentuk pelayanan.

Namun layanannya disempitikan pada sebatas muput upakara.

Muput dalam arti utama adalah ‘Loka Pala Sraya’, yakni ‘Loka’ artinya alam atau dunia, ‘Pala’ dalam hal ini artinya menjaga, dan Sraya itu berarti sandaran. Pada prinsipnya, orang yang menjadi sandaran berarti dia adalah adi guru.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved