Sebut Dakwaan Tak Jelas, 2 WNA Terduga Perampok Money Changer Ajukan Eksepsi

Georgii Zhukov (40) dari Rusia dan Robert Haupt (41) asal Ukraina melakukan upaya perlawanan di persidangan Pengadilan Negeri (PN) Denpasar

Sebut Dakwaan Tak Jelas, 2 WNA Terduga Perampok Money Changer Ajukan Eksepsi
Tribun Bali/Putu Candra
Jalani sidang - Dua Terduga Perampokan Money Changer, Georghi dan Robert Haupt saat disidangkan di PN Denpasar. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Georgii Zhukov (40) dari Rusia dan Robert Haupt (41) asal Ukraina melakukan upaya perlawanan di persidangan Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Rabu (31/7/2019).

Kedua terdakwa melalui tim penasihat hukumnya mengajukan eksepsi (keberatan) terhadap dakwaan jaksa penuntut umum (JPU) yang mendakwa keduanya melakukan perampokan Money Changer BMC PT Bali Maspintjinra Jl Pratama Tanjung Benoa, Kelurahan Benoa, Badung.

Di hadapan majelis hakim pimpinan Sri Wahyuni Ariningsih, tim penasihat hukum para terdakwa dalam nota eksepsinya menyampaikan tiga poin keberatan atas dakwaan.

Pertama, mereka menyebut dakwaan tidak jelas dan seharusnya batal.

"Bahwa dakwaan sepatutnya batal demi hukum karena dakwaan yang diajukan JPU tidak memenuhi Pasal ayat (2) huruf b. Sepantasnya dianggap kabur, membingungkan atau menyesatkan yang berakibat sulit bagi terdakwa untuk melakukan pembelaan diri," tegas I Kadek Putra Sutarnayasa didampingi, I Komang Ari Sumartawan, dan I Nengah Sidia.

Dalam surat dakwaan tim jaksa menuding kedua terdakwa telah mengambil uang dalam laci kasir serta membawa satu unit brankas di Money Changer.

Menurut tim penasihat hukum, tudingan Ini terasa aneh. Alasannya, karena tim jaksa dalam dakwaan tidak menyebutkan secara terperinci uang yang ada di laci kasir dan brankas malah langsung mengklaim total kerugian.

Dikatakan tim penasihat hukum, di surat dakwaan tim jaksa terdapat kekeliruan. Karena sampai saat ini para terdakwa tetap menyangkal melakukan tindak pidana yang didakwakan tim jaksa.

Para penasihat hukum mempertanyakan kewenangan tim jaksa dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Denpasar.

Padahal tempat kejadian (Locus delicty) berada di wilayah Kuta Selatan, Badung. Di mana secara hukum yang berwenang menangani adalah jaksa dari Kejari Badung. (*)

Penulis: Putu Candra
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved