Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Boven Digul Tempatnya Musuh Pemerintah Kolonial, Perlawanan Bung Hatta dan Sjahrir

Selain jalur udara, bisa melalui jalur darat dari Merauke. Membutuhkan waktu sekitar 6 jam dengan berkendara menggunakan roda empat.

Editor: Rizki Laelani
TRIBUNNEWS/DENNIS
Bandara Koroway Batu di Kabupaten Boven Digul, Papua. Tanah Merah Boven Digul dulunya adalah penjara alam. Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir pernah dibuang di lokasi itu pada 28 Januari 1935 silam. 

Di belakang patung Bung Hatta berdiri Markas Polres Boven Digul.

Di sebelah Mapolres terdapat bangunan penjara lama.

Thimotius Anok, tokoh masyarakat sekaligus Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Boven Digul mengatakan, bangunan penjara lama ini, merupakan simbol bahwa Bung Hatta pernah diasingkan dan berjuang meski diisolasi.

"Mereka tetap berjuang, meski pergerakan mereka dibatasi," kata Timothius.

"Ke mana kita dibawa oleh nasib, ke mana kita dibuang oleh yang berkuasa, tiap-tiap bidang tanah dalam Indonesia ini, itulah juga Tanah Air kita. Di atas segala lapangan tanah air aku hidup, aku gembira. Dan di mana kakiku menginjak bumi Indonesia, di sanalah tumbuh bibit cita-cita yang tersimpan dalam dadaku"

*Jejak Ali Archam di Taman Makam Pahlawan Perintis Kemerdekaan Indonesia*

Kuburan orang buangan masih terdapat di Tanah Merah. Tempat itu adalah Taman Makam Pahlawan Perintis Kemerdekaan Indonesia. Letaknya di Kampung B.

Patung Bung Hatta, tak jauh dari Bandara Tanah Merah, Boven Digul

Terdapat sejumlah rumah di sekitar Taman Makam Pahlawan. Namun, bukan bekas tempat tinggal para tokoh yang dibuang di Boven Digul. Rumah itu didirikan oleh warga.

Di antara daftar nama para pahlawan yang dimakamkan tertulis nama "Ali Archam Madiun 08-5-1933".

Di makam Ali Archam tertulis syair: Bagi kami kau tak hilang tanpa bekas/Hari ini tumbuh dari masamu/Tangan kami yang neneruskan/Kerja agung jauh hidupmu/Kami tancapkan kata mulia/Hidup penuh harapan/Suluh dinyalakan dalam malammu/Kami yang meneruskan sebagai pelanjut angkatan.

Ali Archam dilahirkan di Asemlegi, Kawedanan Juwana-wilayah Pati, pada tahun 1901.

Ia merupakan salah seorang pengurus besar PKI pada 1922. (*)

 

Artikel ini ditulis Dennis Destryawan telah tayang di Tribunnews.com

Sumber: Tribunnews
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved