PWNU Bali Gelar Tahlil Akbar Tujuh Hari Kepergian Kiai Haji Mbah Moen

PWNU menggelar tahlil akbar untuk mengenang dan meneladani almarhum KH Mbah Moen di gedung PWNU Bali, Senin (12/8/2019) malam

PWNU Bali Gelar Tahlil Akbar Tujuh Hari Kepergian Kiai Haji Mbah Moen
Istimewa/Dadie Prasetyoadi
Warga Nahdliyin Denpasar memadati gedung serbaguna PWNU Bali melaksanakan tahlil bertepatan 7 hari wafatnya KH Maimoen Zoebair. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, M. Firdian Sani

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - PWNU menggelar tahlil akbar untuk mengenang dan meneladani almarhum KH Mbah Moen atau Syaikhuna KH Maimoen Zoebair di gedung PWNU Bali, Senin (12/8/2019) malam.

Warga Nahdliyin Denpasar memadati gedung serbaguna PWNU Bali melaksanakan Tahlil bertepatan 7 hari wafatnya KH Maimoen Zoebair.

Tahlil Akbar malam ini diprakarsai oleh Nucare-Lazisnu dan PWNU Bali, dan didukung oleh seluruh Banon dan lembaga NU provinsi Bali.

Turut Hadir dalam kesempatan malam ini, Ketua PWNU Bali, KH Abdul Azis; Rois Syuriah PWNU Bali, KH Noorhadi Al-Hafidz; Wakil Syuriah PWNU Bali, KH Drs Saifudin Zaini; Ketua Nucare-LazizNU Bali, H Ekky Rizal; Seluruh perwakilan masing-masing Banom dan Lembaga NU Bali, tokoh masyarakat dan jamaah NU se-Bali kurang lebih sekitar 400 orang.

Pembacaan surat Yasin sendiri dipimpin oleh KH Saifudin Zaini, M.Pd.I, Tahlil dipimpin oleh KH Anwar Hamid, S.Pd.I dan diakhiri dengan doa dari KH Noorhadi Al-Hafidz.

Ketua PWNU Bali KH Abdul Azis mengatakan kepergian KH Maimoen Zubair merupakan kehilangan besar bagi warga Indonesia khususnya dari Nahdlatul Ulama.

"KH Maimoen adalah perekat sebuah perbedaan, apakah di dalam tubuh Nahdliyin, di antara umat Islam dan di tengah-tengah anak bangsa. Beliau selalu hadir memberikan kesejukan. Sehingga jika ada permasalahan sesulit apapun bisa diselesaikan,” tutur Ketua Tanfidziyah PWNU Bali, KH. Abdul Azis.

KH Abdul Azis menambahkan jika Tahlil Akbar malam ini bukan semata-mata mendoakan beliau KH Maimoen Zoebair, namun hakekatnya "ngalap barokah" dari amalan-amalan beliau.

Berharap semua orang khususnya dari NU sendiri mampu meneladani amalan-amalan Sang Kiai baik dalam tata kenegaraan, kecintaan terhadap bangsa negara Kesatuan Republik Indonesia maupun hal-hal yang berkaitan dengan adab, tata krama serta keilmuan-keilmuan lainnya.

Dari sisi adab, Mbah Moen adalah sosok yang rendah hati dan memiliki dedikasi tinggi.

“Bagaimana seorang hadratus Syaikh. Ketika beliau bersalaman dengan presiden beliau mendahului mencium tangannya.” kata KH Abdul Aziz.

Kiai Azis berharap, semua orang khususnya warga NU benar-benar dapat melanjutkan apa yang Mbah Moen sampaikan semasa hidupnya.

Sehari sebelum wafat, Mbah Moen menyempatkan diri bersilaturahmi kepada cucu dari guru Beliau. Mbah Moen adalah murid dari Sayyid Alwi Al Maliki, abah dari Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki.

“Dan Sayyid Alwi mengatakan kepada para jamaah. Apabila ingin melihat surga lihatlah kiai ini (Mbah Moen).” Tandas Ketua PWNU Bali menceritakan tentang Mbah Moen. (*)

Penulis: M. Firdian Sani
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved