Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Kronologi Musibah Terbakarnya KM Santika Nusantara, Penumpang Diminta Terjun ke Air

Musibah terbakarnya Kapal Motor (KM) Santika Nusantara membawa kisah tersendiri bagi Karjono, seorang penumpang.

Editor: Ady Sucipto
dok/ist
KM Santika Nusantara yang terbakar di perairan Masalembu. 

Kedatangan 55 penumpang kapal itu disambut isak tangis keluarga mereka. Para korban dibawa ke Surabaya dengan menumpang KM Dharma Fery 7.

Mendengar penumpang yang selamat datang, keluarga korban yang sudah menunggu sejak pagi itu langsung bergegas melihat di balik kaca pintu kedatangan.

Suasana haru menyelimuti seisi ruang tunggu pelabuhan. Mereka terlihat berpelukan sambil menangis kemudian saling menenangkan.

Menginap di Hotel

Suasana tak kalah haru menyelimuti keluarga korban yang sudah menunggu tetapi nama dari keluarganya itu tidak tercantum dalam daftar 55 penumpang. Seperti yang dialami Muspa, warga Surabaya.

Dia hanya bisa melihat keluarga korban lainnya bertemu anggota keluarganya.

"Kakak dan keponakan saya masih belum terlihat. Handphone-nya saat dihubungi sudah tidak aktif," ujarnya.

Jari telunjuknya berulang kali meneliti data manifes (daftar penumpang) namun nama kakaknya, Hadi Maspandi (45), dan keponakannya Alvian Hadi (18), benar‑benar tidak ada.

Ia berharap mereka saat ini sedang dalam perjalanan di kapal kedua, yang melakukan pertolongan.

"Mudah‑mudahan ikut kapal selanjutnya," harapnya. Kakak dan keponakannya pergi ke Kalimantan untuk mengantar barang. Mereka bekerja sebagai sopir dan kernet dump truck di sana.

Sebanyak 120 penumpang KM Santika Nusantara yang tiba dari Kalianget (Madura), Sabtu (24/8), langsung diinapkan di sebuah hotel di Jalan Niaga Tambang, Surabaya.

Mereka diberi baju dan sandal karena semua barang bawaan hilang.

Seorang keluarga korban, Arum Sakinah, yang datang dari Yogyakarta, tampak berlinang airmata ketika melihat ayah dan ibunya. "Jumat sore dapat telepon, ayah dan ibu selamat, dibantu nelayan," ujarnya.

Sang ayah Idrus, dan ibunya, Titik Rustiani, masih mengenakan pakaian yang dipakai ketika berangkat naik KM Santika Nusantara. Beruntung telepon genggam ayahnya masih bisa digunakan.

"Barang‑barang sama mobil di kapal ludes terbakar," ujar Arum. Diceritakan, ayah dan ibu itu menjenguk Arum di Yogya kemudian pulang ke Balikpapan menggunakan kapal.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved