Dharma Wacana
Tri Hita Karana Hanya Wacana
Ketika orang-orang membicarakan sebuah ajaran yang adiluhung dalam agama Hindu, khususnya di Bali, selalu mengumandangkan konsep Tri Hita Karana.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Ady Sucipto
oleh Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda
TRIBUN-BALI.COM, -- Ketika orang-orang membicarakan sebuah ajaran yang adiluhung dalam agama Hindu, khususnya di Bali, selalu mengumandangkan konsep Tri Hita Karana.
Tri Hita Karana merupakan tiga penyebab terciptanya kebahagiaan, dengan cara berbakti pada Tuhan, menjaga alam/lingkungan, dan saling menghormati sesama manusia.
Tri Hita Karana selalu menjadi parameter. Bahkan di Bali ada penghargaan yang disebut Tri Hita Karana Award. Di ranah desa adat/pakraman, konsep ini juga selalu diwacanakan.
Tapi selama ini, kita melihat ada suatu hal yang tidak nyambung dengan apa yang diamanatkan oleh ajaran itu. Sebagai sebuah konsep, dia belum menyentuh menyeluruh secara konsepsional.
Selama ini, Tri Hita Karana hanya berada di dunia abstrak atau dunia pikiran, hanya menjadi sebuah ideologi atau masih berada di tataran teori.
Dia belum menjadi sebuah konsepsional, dimana antara dunia pemikiran dan dunia tangkapan lahiriah masih mengalami kesenjangan.
Lalu, apa yang menyebabkan hal ini terjadi? Banyak hal yang bisa kita pakai sebagai landasan kajian terkait hal ini.
Pertama adalah dari segi kelembagaan. Hingga saat ini, konsep Tri Hita Karana belum terlembaga secara utuh atau belum terjadinya sebuah eksistensi yang maksimal. Kita tak bisa pungkiri, sebagai sebuah ajaran, kita yakin semua umat Hindu di Bali tahu apa itu Tri Hita Karana. Namun dia hanya sekadar ada dalam pikiran dan wacana. Sementara pengejawantahannya, bisa dikatakan sangat kurang.
Tri Hita Karana harus ditindaklanjuti sebagai sebuah bentuk kesadaran, lalu menjadi sebagai sebuah kepemilikan. Sebagai sebuah kepemilikan, memang semua orang sudah tahu bahwa Tri Hita Karana adalah nilai-nilai adat istiadat atau kebudayaan Bali. Meskipun sebenarnya sumber dari konsep ini ada di Kitab Bhagawad Gita (III.10)
Setelah mengetahui sebagai kepemilikan, lalu ada yang disebut dengan menghargai. Selama ini, umat menghargai konsep Tri Hita Karana hanya bersifat sementara. Ketika ada lomba, baru orang-orang akan menerapkannya. Kita hanya mengejawantahkan konsep adiluhung ini, hanya terpacu pada sebuah penghargaan. Contohnya lomba kebersihan gang, saat ada lomba, baru orang-orang kemas-kemas, kenapa tidak dilakukan setiap hari. Maka daripada itu bisa dikatakan Tri Hita Karana ada dipikiran, ada di wacana, tetapi pelaksanaan yang bersifat rutin tidak ada.
Dalam melihat Tri Hita Karana, kita tidak boleh melihat satu-satu. Sebab tiga sub di dalamnya keterkaitan, palemahan, pawongan dan parhyangan.
Selama ini kita marah kalau ada yang melecehkan Pura atau tempat suci kita. Sementara saat kita sembahyang, kita membuang sampah secara sembarangan, ke pura dengan tujuan bertemu dengan selingkuhan, atau berkata-kata kotor.
Itu sebenarnya sama saja telah melecehkan tempat suci kita sendiri. Hubungan kita dengan Tuhan, bukan hanya sebatas keyakinan, bukan hanya sebuah bendera. Tetapi keyakinan itu harus ada di sanubari yang telah meresap, atau dalam istilah Balinya ‘nyusup’. Ketika ada proses penghargaan, karena itu barang berharga, harus ditaati.
Dari sudut pandang eksistensi, selama ini Tri Hita Karana hanya sebuah jargon wacana. Kerap diwacanakan dalam dunia pementasan. Dunia pementasan itu hanya dunia sandiwara, bukan dunia realita, sehingga apa yang diwacanakan, tentu hal yang bersifat bombastis atau melampaui realitas.
Marilah kita tingkatkan pemahaman Tri Hita Karana ke dalam bentuk estetika. Dalam estetika, akan melahirkan sebuah emosi (rasa). Rasa dalam hal ini bukan rasa sentimentil, tetapi naluri yang masuk ke wilayah nurani.
Kita juga harus menyerapi Tri Hita Karana dalam bentuk eksistensi etika. Yakni, melihat manfaat yang kita peroleh setelah kita menjalankan Tri Hita Karana.
Saya sering keliling, dan masih menyaksikan banyak orang membuang sampah ke selokan, mengakibatkan banjir. Dalam mengurai banjir, trotoar dibongkar. Berarti, estetika dan etikanya belum ada.
Padahal Hindu memiliki falsafah, bhuana agung (alam semesta) adalah bhuana alit (diri kita). “Menjaga tubuh sesungguhnya harus diikuti menjaga lingkungan. Dengan menjaga lingkungan, Anda juga menjaga tubuh Anda,”.
Dari segi religius, kita mengetahui bahwa Tuhan itu ‘Wyapi Wyapaka’ (ada di mana-mana). Artinya, Tuhan tidak hanya ada di Pura, Tuhan juga ada di alam semesta. Alam semesta ini diciptakan oleh Tuhan, untuk kita sebagai matrik pembungkus pembungkus. Manusia itu tidak bisa lepas dari alam.
“Karena Tuhan hadir di alam, maka hormatilah alam. Ketika kita menghormati alam, berarti kita menghormati Tuhan,”.
Faktanya, kita sering semena-sema terhadap alam, mengeksploitasi dan mencemarkan alam. Itu artinya kita telah menghancurkan bhuana alit.
Mohon maaf, beberapa kasus di galian, di tambang, selama ini banyak menimbulkan korban jiwa. Namun hal ini bukan berarti tak boleh mengeksploitasi alam, tapi kita juga harus melakukan ‘recovery’ alam.
Tri Hita Karana adalah cara kita membangun suasana hati melalui alam semesta. Sebab bagaimana pun, gelombang-gelombang alam akan menangkap getaran pikiran manusia.
Saat ini, manusia hanya fokus pada egosentris, hanya mencari cara bagaimana dia bisa hadir dan eksis tanpa memikirkan yang lain. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ida-pandita-mpu-jaya-acharya-nanda-saat-dijumpai-usai-menjadi-narasumber.jpg)