Breaking News:

Risiko Tembakau Alternatif Disebut Lebih Rendah, Regulasi Peredaran Vape Belum Jelas

Penggunaan tembakau alternatif atau rokok elektrik yang kerap disebut Vape maupun Pods kian populer, pembahasan soal perokok menjadi perhatian.

pixabay.com
Ilustrasi vape. 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Koalisi Indonesia Bebas TAR (Kabar) bersama KNPI Tabanan menggelar seminar terkait Potensi UMKM Produk Tembakau Alternatif di Kabupaten Tabanan, Senin (26/8/2019).

Pembahasan soal perokok menjadi perhatian saat ini, terlebih lagi penggunaan tembakau alternatif atau rokok elektrik yang kerap disebut Vape maupun Pods kian populer. 

Vape atau Pods dipercaya bisa menjadi alternatif untuk mengurangi konsumsi rokok konvensional atau untuk berhenti merokok tembakau konvensional sekalipun.

Sayangnya, pengunaan tembakau alternatif ini masih terbentur regulasi. Belum ada regulasi yang jelas yang mengatur tentang keberadaannya. 

"Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Tabanan, jumlah perokok (tembakau konvensional) aktif mencapai 25 persen dari jumlah penduduk atau sekitar ratusan ribu. Itu di atas presentase untuk provinsi Bali," sebut Asisten II Sekda Tabanan, AA Dalem Trisna usai membuka acara seminar, Senin (26/8/2019). 

Dalem melanjutkan, kedepannya langkah yang dilakukan yakni tetap dengan Perbup terkait larangan merokok di tempat umum atau Kawasan Tanpa Rokok (KTR) seperti di areal Kantor Pemerintah, Rumah Sakit, dan tempat umum lainnya.

Pihaknya mengaku tetap menggaungkan terkait larangan merokok tersebut, namun balik lagi ke kesadaran masyarakat pribadi terkait kesehatan. 

"Ini merupakan satu upaya untuk mengurangi masyarakat merokok mengingat bahayanya merokok," katanya.

Suasana saat berlangsungnya seminar tentang tembakau alternatif di Tabanan, Senin (26/8/2019).
Suasana saat berlangsungnya seminar tentang tembakau alternatif di Tabanan, Senin (26/8/2019). (Tribun Bali/Made Prasetia Aryawan)

Disinggung terkait tembakau alternatif, Dalem menyatakan hingga saat ini masih belum ada pengawasan maupun pendataan terkait keberadaan usaha Vape atau yang lebih dikenal dengan nama Vape store.

Hal yang harus diawasi adalah ketika Vape itu disalurkan ke UMKM, namun bahannya dicampur dengan kandungan zat lain misalnya kimia yang berbahaya, yang akan berdampak ke masyarakat sendiri.

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved