Cara Desa Adat Besang Kawan Tohjiwa Gelar Tradisi Mejaga-jaga

Dalam ritual matur piuning ini, sapi cula yang dipakai caru diperciki tirta dari Pura Dalem Desa Pakraman Besang Kawan Tohjiwa dengan banten lengkap.

Cara Desa Adat Besang Kawan Tohjiwa Gelar Tradisi Mejaga-jaga
TRIBUN BALI/EKA MITA SUPUTRA
Bertepatan dengan tilem sasih karo digelar tradisi mecaru mejaga-jaga di Desa Pakraman Besang Kawan Tohjiwa, Kelurahan Semarapura Kaja, Klungkung, Jumat (30/8/2019). 

Desa Adat Besang Kawan Tohjiwa Gelar Tradisi Mejaga-jaga

TRIBUN-BALI.COM, KLUNGKUNG - Bertepatan dengan tilem sasih karo digelar tradisi mecaru mejaga-jaga di Desa Pakraman Besang Kawan Tohjiwa, Kelurahan Semarapura Kaja, Klungkung, Jumat (30/8/2019).

Tradisi ini digelar tiap tahun dengan tujuan untuk menghidari terjadinya malapetaka bagi warga desa.

Prosesi mejaga-jaga kemarin mulai digelar sekitar pukul 07.00 wita.

Ritual diawali dengan upacara matur piuning di Catus Pata Besang Kawan.

Dalam ritual matur piuning ini, sapi cula yang dipakai caru diperciki tirta dari Pura Dalem Desa Pakraman Besang Kawan Tohjiwa dengan banten lengkap.

Sebelum diperciki tirta, sapi tersebut dimandikan secara khusus.

Setelah upacara atur piuning di Catus Pata, warga kemudian beramai-ramai mengarak sapi menuju utara di jaba Pura Puseh, sepanjang 250 meter.

Darah yang berasal dari sapi kurban itu, lalu diperebutkan oleh warga.

Ceceran darah sapi itu diyakini sebagai darah kurban untuk menjaga desa setempat. Baik skala maupun niskala.

Halaman
12
Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: Rizki Laelani
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved