Sinema Bentara Budaya Bali Angkat Kisah-Kisah Tersembunyi Sebuah Kota
Film-film yang ditayangkan merupakan film yang telah meraih penghargaan nasional dan internasional.
Sinema Bentara Budaya Bali Angkat Kisah Tersembunyi Sebuah Kota
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Setiap kota selalu punya berlapis kisah lama, juga cerita sehari-hari yang tersembunyi, atau luput dari perhatian kebanyakan orang.
Sinema Bentara yang berlangsung di Bentara Budaya Bali (BBB) Jalan Prof Dr Ida Bagus Mantra No 88A, Ketewel, Sukawati, Gianuar, Bali, Kamis (29/8/2019) dan Jumat (30/8/2019) khusus menayangkan sejumlah film terpilih selaras tematik tersebut.
Film-film yang ditayangkan merupakan film cerita dan dokumenter yang telah meraih penghargaan nasional dan internasional.
Antara lain berjudul Penempa Bara (Dokumenter, Indonesia, 2018); Sang Penjaga Beji (Dokumenter, Indonesia, 2017); Banda, The Dark Forgotten Trail (Indonesia, Dokumenter, 2017); Les Parapluies De Cherbourg (Prancis, 1964); serta Umberto D. (Italia, 1952).
Film Penempa Bara dan Penjaga Beji keduanya disutradarai oleh sineas muda Bali, AAI Sari Ning Gayatri.
Dokumenter tersebut merekam sisi-sisi historis, humanis, hingga spiritual masyarakat Bali melalui sudut pandang seorang pande (pembuat) keris pusaka (Penempa Bara) dan Jro Mangku penjaga Pura Beji di Kesiman (Penjaga Beji).
Kedua film ini telah meraih berbagai penghargaan serta diputar di ajang festival film bergengsi.
Yang terkini, Penempa Bara terpilih dalam Official Selection Organization of World Heritage Cities Video Competition 2019 di Krakow, Polandia.
Tidak kalah menarik, dokumenter yang disutradarai Jay Subiakto, yakni Banda, The Dark Forgotten Trail.
Film ini merunut kembali jejak kesejarahan di Kepulauan Banda.
Pada abad pertengahan, di mana pala menjadi komoditi paling berharga di Pasar Eropa, Kepulauan Banda yang saat itu menjadi satu-satunya tempat pohon-pohon pala tumbuh menjadi kawasan yang paling diperebutkan.
Diungkap dalam dokumenter tersebut bagaimana upaya Belanda yang bahkan rela melepas Nieuw Amsterdam (Mannhatan, New York) agar bisa mengusir Inggris dari kepulauan tersebut.
Pembantaian massal dan perbudakan pertama di Nusantara terjadi di Kepulauan Banda.
Di sana pula, sebuah semangat kebangsaan dan identitas multikultural lahir menjadi warisan sejarah dunia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/diskusi-sinema-di-bentara-budaya-bali.jpg)