Bunga pun Impor, Ini Curhatan Didon Tentan Bunga Lokal Bali
Didon menjelaskan, kaum millenial tidak tertarik dengan bunga lokal dan memilih berkiblat dengan bunga impor.
Penulis: Noviana Windri | Editor: Rizki Laelani
Bunga pun Impor, Ini Curhatan Didon Tentan Bunga Lokal Bali
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Didon Kajeng, satu di antara Balu Floral Designer menggelar floral arragement demo and workshop di Colony Hub, Plaza Renon, Denpasar, Bali, Minggu (1/9/2019).
Demo dan workshop yang bertajuk East Meet West bertujuan untuk membangkitkan dan memperkenalkan rangkaian bunga lokal yang dikombinasikan dengan rangkaian bunga impor.
"Saya memberikan wawasan baru kepada masyarakat bahwa janur dan bunga lokal itu bisa dirangkai dengan taste internasional," ucap Didon.
Didon menjelaskan, kaum millenial tidak tertarik dengan bunga lokal dan memilih berkiblat dengan bunga impor.
Ia menilai jika bunga lokal dirangkai sedemikian rupa tak akan kalah dengan rangkaian bunga impor.
• Timnas U-22, Bali United, dan PSIM Yogyakarta Akan Unjuk Gigi di Trofeo Hamengkubuwono 2019
• Manjakan Pengunjung di Bulan September, Element Family Fun Lippo Mall Kuta Hadirkan 3 Permainan Baru
• Perasaan Ni Kadek Setiawati Belasan Tahun Berdagang di Bangunan Rusak
"Keadaannya sudah mengkhawatirkan ya. Masyarakat saat ini kurang literasi tentang bunga lokal."
"Bunga lokal itu punya semua jenis warna yang dibutuhkan. Tetapi kebanyakan orang tidak tahu."
"Karena itu mungkin orang-orang banyak tidak menggunakan bunga lokal untuk merangkai ya," jelasnya.
Banyak petani bunga lokal yang mengeluh padanya, tentang bunganya yang tak laku di pasaran, seperti bunga pisang-pisangan dan bunga ratna.
Bunga lokal hanya laku jika dijual untuk sembahyang, bukan untuk rangkaian bunga.
"Saya ingin bunga lokal ini bisa bersaing dengan bunga impor. Karena kalau tidak begitu semakin lama bunga lokal akan punah. Kalau kita bisa menggunakan bunga sendiri kan petani juga semangat menanamnya," tambahnya.
Bunga lokal Bali di antaranya yakni bunga gemitir, bunga pucuk arjuna, bunga sandat, bunga cempaka, bunga gadung dan bunga lainnya.
"Ya semoga gak punah saja bunga-bunga lokal. Bisa diterima khususnya kaum millenial yang saat ini tidak banyak tahu tentang bunga lokal," tutupnya.
Sementara, Penggerak PKK Provinsi Bali, Suastini Koster mengapresiasi workshop sebagai langkah mempertahankan keberadaan dan eksistensi bunga lokal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/didon-tengah-bersama-para-peserta-workshop.jpg)