Jem Tatto Desak Imigrasi Deportasi Roussel, Ketua PHRI Buleleng Ungkap Pesan Roussel

Kasus ini dinilai sebagai konflik sosial, maka pihak Imigrasi imbuh Thomas, akan mencoba memediasi antar Jem, masyarakat Desa Pemaron dan Roussel.

Jem Tatto Desak Imigrasi Deportasi Roussel, Ketua PHRI Buleleng Ungkap Pesan Roussel
Tribun Bali/Ratu Ayu Astri Desiani
KONFLIK - Jem Tatto bersama aparat desa, polisi dan petugas Imigrasi mendatangi kediaman milik Roussel, Senin (2/9/2019). Saat petugas datang, Roussel tidak berada di rumah. 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Konflik antara Ketut Agus Suadnyana alias Jem Tatto (33) dengan warga negara asing (WNA) asal Perancis, Roussel Gil Pascal Andre (51) belum juga usai.

Jem Tatto demikian sapaannya tetap mendesak pihak Imigrasi Kelas II Singaraja untuk segera mendeportasi Roussel karena dinilai telah meresahkan banyak warga.

Jem yang merupakan warga Dusun Dauh Margi, Desa Pemaron, Kecamatan/Kabupaten Buleleng mengatakan, sejak konflik itu terjadi hingga viral di sosial media, ia belum bertemu dengan Roussel untuk menyelesaikan masalah secara baik-baik.

Kendati demikian, ia tetap meminta kepada Imigrasi agar segera mendeportasi Roussel ke negara asalnya.

"Apapun alasannya orang asing ini sudah bikin banyak ulah dan meresahkan warga. Saya tidak mau suatu hari nanti emosi masyarakat akan meledak hingga terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," katanya, Rabu (4/9/2019).

Sementara itu, Kasi Intelijen dan Penindakan Keimigrasian, Kantor Imigrasi Kelas II Singaraja, Thomas Aries Munandar mengatakan, permintaan Jem tidak serta merta dapat dilakukan oleh pihak Imigrasi. 

Thomas mengatakan, butuh banyak acuan dan pertimbangan untuk mendeportasi wisatawan asing.

"Kami menilai tidak ada pelanggaran keimigrasian. Karena ini murni masalah konflik sosial yang bisa saja terjadi disetiap orang atau wisatawan," ujar Thomas.

Karena kasus ini dinilai sebagai konflik sosial, maka pihak Imigrasi imbuh Thomas, akan mencoba memediasi antar Jem, masyarakat Desa Pemaron dan Roussel.

Untuk itu, dalam waktu dekat Thomas mengaku akan segera memanggil Roussel untuk dimintai keterangan.

"Roussel belum dapat kami temui. Kami baru menggali keterangan dari satu pihak yakni warga Desa Pemaron, aparat desa, dan keterangan lainnya terhadap ulah Roussel. Untuk keterangan dari Roussel belum kami dapat," kata Thomas.

Khawatir Meledak

Sementara Ketua PHRI Buleleng, Dewa Ketut Suardipa mengaku sudah mengkonfirmasi Roussel terkait konflik ini.

Kepada Suardipa, Roussel mengaku melarang Jem untuk membuat api di sekitar pantai tersebut karena terdapat instalasi pipa BBM PLTGU Pemaron milik PT Indonesian Power.

"Roussel mengirimkan saya pesan, yang pada intinya dia minta maaf. Maksudnya kemarin itu karena dia takut api tersebut dapat memicu ledakan karena di sekitar pantai terdapat pipa milik PLTGU," ujarnya. (*)

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved