Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Permudah Layanan, Wabup Kembang Hartawan Ingatkan Warga Siapkan Kartu BPJS Saat Berobat

Wabup Jembrana mengunjungi I Made Sueca yang sempat viral karena mengamuk lantaran kurang puas terhadap pelayanan rumah sakit

Penulis: I Made Ardhiangga Ismayana | Editor: Irma Budiarti
Humas Pemkab Jembrana
Wakil Bupati Jembrana Made Kembang Hartawan saat menemui Sueca di kediamannya, Jumat (6/9/2019). Permudah Layanan, Wabup Kembang Hartawan Ingatkan Warga Siapkan Kartu BPJS Saat Berobat 

Permudah Layanan, Wabup Kembang Hartawan Ingatkan Warga Siapkan Kartu BPJS Saat Berobat

TRIBUN-BALI.COM, NEGARA - Adanya polemik keluhan masyarakat terhadap layanan di RSU Negara beberapa waktu lalu hingga sempat viral di media sosial, disikapi langsung Wakil Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan.

Kamis (5/9/2019) kemarin, Kembang Hartawan mengunjungi kediaman I Made Sueca, warga Tegal Badeng Timur, Kecamatan Negara, Jembrana, Bali, yang diberitakan sempat mengamuk lantaran kurang puas terhadap pelayanan RSU Negara.

“Saya datang ke sini bukan untuk mengklarifikasi salah atau benar dari kasus itu, tapi ingin mendengar langsung dari bapak. Apa yang menjadi keluhan serta apa yang harus dilakukan untuk perbaikan layanan yang lebih baik ke depannya,“ ujarnya.

"Ini juga akan jadi bahan evaluasi sekaligus catatan kami, sekaligus hasilnya akan dikoordinasikan nanti kepada Bupati Jembrana," tambah Kembang Hartawan.

Menurutnya, pemerintah tidak boleh antikritik, harus juga mendengarkan sekecil apapun saran maupun keluhan warganya.

Ia menambahkan, saat ini pemerintah daerah terus berkomitmen meningkatkan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat Jembrana.

Selain pembangunan gedung baru RSU yang memakan anggaran APBD sebesar Rp 179 miliar lebih, warga Jembrana juga dimanjakan dengan adanya program JKN-KIS.

Pemerintah daerah menganggarkan sebesar Rp 53 miliar untuk meng-cover masyarakat berobat sebagai peserta BPJS di kelas III.

Hanya saja ia mengakui sosialisasi yang belum maksimal program ini belum mampu diserap dengan baik.

Di lapangan, ditemuinya masih ada masyarakat yang belum memiliki kartu karena belum didaftarkan atau terdata.

Sementara pada kasus yang dialami anak Sueca, dijelaskan Kembang sedikit berbeda.

Kartu BPJS yang hendak digunakan masih menunggak, sehingga pengurusannya memerlukan waktu, dan yang bersangkutan tidak masuk sebagai peserta BPJS Kesehatan yang disubsidi pemerintah.

“Kebetulan enam bulan yang lalu saya sempat sosialisasi pembagian kartu JKN-KIS di banjar ini. Sosialisasi ini juga dilakukan di 260 banjar lainnya, terkait distribusi serta tata cara penggunaan kartu,“ ujar Kembang.

Terkait persoalan berita viral itu, Kembang melihatnya lebih disebabkan penyampaian komunikasi saja, antara keluarga pasien dengan paramedis yang bertugas.

Kesalahpahaman sering terjadi saat masyarakat datang berobat tidak menyiapkan kartu BPJS-nya terlebih dahulu.

“Masyarakat datang berobat tidak memiliki kartu, diwajibkan petugas mengurus kartu terlebih dahulu. Ada kerugian waktu, pikiran bahkan tenaga di situ. Padahal inginnya cepat dilayani. Nah, hal-hal itu kerap kali terjadi, menyebabkan emosi sehingga timbul keluhan,” kata Kembang.

Karena itu ia berharap masyarakat menyiapkan terlebih dahulu kartu BPJS-nya, mengecek apakah masih aktif atau belum terdaftar sama sekali.

Karena setiap orang, dikatakannya, pasti akan pernah sakit dan dirawat.

Termasuk bagi mereka yang baru menikah dimintanya untuk segera mendaftarkan diri.

“Segera bikin akta sebagai syarat mengurus BPJS. Penting dicatat, menghindari permalasahan terjadi, sebaiknya BPJS harus ada sebelum digunakan,“ katanya.

Sementara itu, kepada Wakil Bupati Kembang Hartawan, I Made Sueca mengakui, dirinya pada Senin (2/9/2019) malam lalu, sempat emosi dan jengkel terhadap pelayanan yang diberikan petugas di IGD RSU Negara.

Saat itu diceritakan Sueca sehari sebelum ke RSU Negara, (Minggu, Red) anaknya pulang dari Denpasar karena keadaan janin dalam kandungan istrinya tidak ada gerakan seperti biasanya.

Kemudian anak dan menantunya melakukan kontrol ke salah satu praktek dokter spesialis kandungan di Negara.

“Ke Dokter Rai, kontrol di sana katanya sudah tidak ada denyut nadi. Keputusan dari Dokter Rai itu katanya sudah meninggal. Kemudian diberikan surat rujukan harus ke rumah sakit,” ujarnya.

Selain itu Sueca juga mengaku kesal dengan pelayanan petugas rumah sakit, seolah-olah dirinya disepelekan sehingga mengakibatkan malam itu dirinya mencak-mencak karena dalam pikirannya, sangat khawatir dengan kondisi kesehatan menantunya yang  janin dalam kandungannya sudah meninggal.

Atas kejadian itu kepada Wabup Kembang, Sueca menyampaikan permohonan maaf.

Terlebih lagi berita itu sempat viral dan menyudutkan RSU Negara.

“Saya memohon maaf atas kejadian itu, bukan maksud menjatuhkan nama baik RSU Negara. Tidak sama sekali. Saat itu saya sedang bingung karena mendapat pelayanan yang saya anggap kurang baik dari petugas. Tapi yang saya juga sesalkan kenapa bisa viral, bahkan ada informasi hoaks yang beredar,” cetusnya.

Sueca juga mengakui saat itu sedang emosi karena tidak mendapatkan informasi yang utuh akan kondisi penanganan menantu beserta bayinya yang dinyatakan sudah meninggal dalam kandungan.

Namun saat ini diakuinya semua sudah terselesaikan dengan baik.

Begitupun menantunya dalam kondisi baik setelah melahirkan secara normal dan telah diperbolehkan pulang.

(*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved