Bali Paradise
400 Penari Rejang Buka Festival Jatiluwih 2019
Mengenakan pakaian serba kuning dengan selendang warna putih, ratusan wanita terlihat sangat lemuh menarikan Tari Rejang Kesari secara kolosal
Penulis: I Made Prasetia Aryawan | Editor: Sunarko
"Jadi, antara kita dan masyarakat tidak bergerak sendiri, mari kita bersama-sama menjaga alam ini. Semoga dengan tarian ini kita menghormati dan bersyukur kepada alam atas semua yang diberikan," tandas Bupati Eka.
Sementara itu, Putu Pitana mengatakan festival ini sudah sangat memenuhi standar untuk skala pariwisata.
Sebab, selain pelaksanaannya sudah baik, subak, banjar dan masyarakat di Jatiluwih ini mendapat manfaat langsung dari daerah pariwisata ini.
"Jadi ada banyak kemajuan saat ini. Selain pariwisatanya yang melibatkan masyarakat, pengelolaan DTW (Daerah Tujuan Wisata) juga sudah sangat tertata, kemudian ekonomi kerakyatannya," kata Pitana.
Ia mengatakan, dulu masyarakat urunan untuk kegiatan odalan, pertanian dan pembayaran pajak tanah.
Sekarang dampak positif pariwisata sudah sangat dirasakan masyarakat.
Namun, kata dia, ada beberapa hal yang perlu diperbaiki di DTW Jatiluwih ini.
Pertama adalah mengenai Patung Dewi Sri yang dibuat kurang tinggi atau tak terlihat dari jauh.
Sehingga, wisatawan masih banyak yang belum mengetahui keberadaan patung ini.
Tentu ini harus diperbaiki dan selanjutnya akan menarik minat wisatawan untuk datang ke Jatiluwih.
"Kemudian yang masih perlu ditingkatkan adalah promosi. Dan festival ini memang menjadi salah-satu cara promosi, tapi harus lebih ditingkatkan. Kenapa harus festival, karena dengan festival ini kita akan lebih menggaungkan Jatiluwih ini, meskipun membutuhkan biaya yang besar. Namun dampaknya akan terasa beberapa tahun lagi karena merupakan investasi," tandasnya.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/rejang-sekitar-400-perempuan-menampilkan-tari-rejang-kesari-saat-pembukaan-jatiluwih-festival-2019.jpg)