Sempat Berjaya, Perajin Patung Kayu di Singakerta Gulung Tikar Karena Gaya Hidup Konsumtif
Banyak pengusaha patung kayu di Singakerta Ubud yang gulung tikar, diduga karena gaya hidup dan tak kuat melawan tekanan konsumen.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Widyartha Suryawan
“Obral harga tidak terkontrol waktu itu, dan akhirnya pengusaha yang tidak kuat memilih gulung tikar,” ujarnya.
Wartawa berharap, kondisi yang terjadi di kawasannya ini dapat dijadikan pelajaran oleh pebisnis-pebisnis saat ini.
“Pebisnis harus memiliki mental kuat. Contoh negara seperti Jepang. Di negara mereka penduduknya jarang bawa motor, lalu kenapa dia jadi produsen motor? Karena ada permintaan. Mental mereka sangat kuat, setiap ada motor keluaran baru, mereka tak pernah menurunkan harga, harga tetap naik tapi tetap laku. Jangan karena ada tekanan sedikit, langsung ngobral harga,” himbaunya.
Wartawa mengatakan barang dagangannya bahkan di-supply dari Kabupaten Karangsem. Hal tersebut akibat punahnya generasi perajin di banjarnya.
Menurutnya, kondisi itu tak terlepas dari obral harga yang dilakukan pengusaha tahun 2000an. Perekonomian para perajin dikorbankan.
“Karena harga yang ditawarkan turun, dalam mencari keuntungan pengusaha menekan para pematung. Misalnya, keuntungan 10 ribu tidak dicari pada konsumen, tapi keuntungan itu dicari dengan menurunkan upah perajin,” ujarnya.
Seleksi Ketat Para Perajin
Selain itu, para pengusaha melakukan seleksi ketat terhadap perajin. Sebelum terjadinya obral harga, para perajin bisa bekerja secara leluasa.
Meskipun kondisi barangnya patah, kata dia, tetap dibayar dengan harga normal sebab dengan keuntungan yang waktu itu mencapai 500-600 persen, penjualan satu kerajinan sudah sudah menutupi kerugian lebih dari dua patung.
“Dulu waktu masih jaya, barang seperti apapun dikasi tetap diterima. Setelah merosot, hasil karya pematung diseleksi ketat. Misalnya mengerjakan 10 buah karya, bisa-bisa hanya enam karya yang diambil, sisanya pematung yang rugi,” ujar Wartawa.
Kondisi tersebut mengakibatkan para perajin jengah dan memilih beralih profesi.
Bahkan Dewa Wartawa yang ikut menerapkan seleksi ketat karena tekanan persaingan, pernah ditinggalkan perajin ketika orderannya banyak.
“Saya pernah ditinggal tajen sama perajin saya karena penghasilan di tajen lebih besar. Dan sekarang dampaknya benar-benar terasa, orang tua tak mengizinkan anaknya jadi perajin karena masa depan tak meyakinkan. Para orang tua juga sekarang memilih profesi lain, jadi tukang bangunan karena pendapatannya lebih baik,” ujarnya. (*)